Teaser & Sketsa Rahasia Lantai Keempat

Sebenarnya, ini hanya karena aku kangen menggambar. Dulu, aku pernah aktif sekali menggambar: membuat sketsa, komik, hingga ilustrasi dengan pewarnaan digital. Tapi, setelah mulai bekerja pada 2010, aku mulai jarang menggambar, hingga benar-benar berhenti.

Belakangan, aku mulai kangen. Meskipun nggak cukup percaya diri untuk bikin ilustrasi berwarna, setidaknya, aku ingin mencoba membuat sketsa. Lalu, kupikir, kenapa ngga membuat sketsa untuk novelku sendiri?

Jadi, inilah dia. Sketsa yang kubuat untuk salah satu adegan dalam RAHASIA LANTAI KEEMPAT. Sekalian aku posting saja teaser adegan yang mendasari sketsa tersebut. Please enjoy~! 🙂

 


 

 

Randy menenggak air mineral itu sedikit demi sedikit, memastikan dirinya tidak meminum terlalu banyak. Siapa yang tahu berapa lama lagi mereka masih harus berada di sini? Setidaknya persediaan air mereka harus dihemat.

Ruang kelas yang mereka gunakan untuk bersembunyi kali ini adalah ruang kelas mereka di tahun pertama SMU dulu, saat mereka berempat secara kebetulan sekelas. Sekali lagi, mereka kembali ke lantai dasar.

Ketika melirik ke tiga orang temannya, Randy menyadari, mereka—termasuk dirinya—sudah berada di ambang breaking point. Seolah mengamini pikirannya, tangis Nikki mulai pecah.

Dilihatnya, gadis itu meringkuk, memeluk lutut dan membenamkan wajahnya di antara lengan. Pundaknya sesekali berguncang.

“Ki…” panggilnya ragu. Randy tidak bisa mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, karena dia tahu, untuk saat ini, tidak ada yang baik-baik saja. Tidak tahu harus bilang apa, Randy hanya menyodorkan botol air mineral yang masih dipegangnya. “Minum dulu.”

Nikki menggeleng pelan, membiarkan isaknya keluar beberapa kali, lalu bicara. Suaranya parau oleh emosi dan tenggorokannya yang kering. “Gue capek… nggak sanggup lari lagi. Percuma juga, kalau makhluk itu selalu bisa menemukan kita…”

Randy terdiam. Setelah adrenalinnya turun, memang baru seluruh badannya terasa pegal dan sakit di beberapa bagian. Jika dia tidak sedang duduk, mungkin pinggang dan lututnya sudah lemas.

Dari sisi Randy yang lain, isakan pelan Fara mulai terdengar. Ia melirik ke seberangnya, Neil yang selalu memilih untuk bersandar di pintu. Randy bisa melihat wajah Neil yang juga sama bingungnya. Sahabatnya itu terlihat berpikir sebentar, lalu—

I know this is hard,” dia memulai. “But think about it. Semakin kita merasa kalut, sedih, marah, takut… semakin cepat Dia menemukan kita.” Neil menarik napas. Nikki mulai mengangkat wajah untuk mengintip, sementara Fara berusaha menghapus airmatanya.

The least we can do,” cowok itu melanjutkan, dan dari jumlah kata berbahasa Inggris yang dia gunakan, Randy tahu bahwa Neil sendiri sebenarnya sama kalutnya dengan mereka. Itu memang kebiasaannya. “We can try to you know. Menekan emosi-emosi negatif kita.”

Hening sejenak. Nikki sekarang sudah mengangkat wajahnya sepenuhnya, mengusap mata dengan punggung tangan. “Susah Neil, nggak mungkin kita nggak takut—”

“Iya, makanya gue bilang menekan,” potong Neil. “Di saat seperti ini, takut itu wajar. Tapi mungkin kita bisa coba untuk—you know—nggak berantem, mungkin. Nggak saling menyalahkan dan fokus ke gimana kita bisa keluar dari sini.”

Mendengar perkataan Neil itu, Nikki dan Fara sama-sama membuang pandangan mereka ke samping. Lalu, sekali lagi kesunyian menyelimuti mereka. Yang terdengar hanya bunyi napas, yang sesekali tersendat oleh emosi yang belum surut.

“…af,” bisik Nikki pelan, kembali membenamkan wajahnya. Dia rasanya tidak berani memandang wajah teman-temannya. Lebih mudah untuk mengatakan ini ketika dia tidak perlu melihat wajah mereka. “Maafin gue… untuk semuanya.”

Untuk sikapnya yang hanya memperburuk suasana dan menyalahkan orang. Untuk perkataannya yang sudah menyakiti Fara, Randy, Neil. Untuk idenya menuliskan tentang mitos ini—karena itu adalah awal dari semua ini, kan?

Pada akhirnya, semua ini salah Nikki sendiri.

sketsa nikki

Leave a Reply