[Blog Tour & Giveaway] Di Balik Rahasia Lantai Keempat

Belum lama ini, aku menulis tentang behind the scene Apartemen Berhantu. Kali ini, aku akan berbagi mengenai pembuatan RAHASIA LANTAI KEEMPAT.

rlk

Tidak lama setelah “Apartemen Berhantu” terbit, @RyAzzura kembali menghubungiku dan memintaku menulis untuk genre horor remaja. Saat itu, aku kaget bercampur senang, karena artinya, tulisan horor pertamaku bisa diterima dengan baik.

Aku langsung memutar otak dan mencari ide. Saat itu, aku belum tahu ingin menulis apa, sementara aku memiliki deadline. Aku nggak mungkin hanya menunggu inspirasi datang, aku harus aktif mencarinya.

Saat itu, aku sudah memutuskan bahwa aku akan menulis dengan setting sekolahan. Aku tahu tema horor sekolah sudah sangat sering digunakan, tapi aku suka menantang diri sTartarus-Persona-3endiri untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda untuk tema yang sudah umum. Lagipula, bagiku tema horor sekolah itu everlasting. 

Inspirasi awalku adalah konsep dark hour dan Tartarus dari game Persona 3 yang dulu pernah kumainkan. Aku ingin menghadirkan suasana sekolah yang berubah mencekam di malam hari, di dunia yang senyap, familiar-tapi-asing, dan seolah hanya ada keempat tokohku di dalamnya.

Aku kemudian brainstorm dengan seorang teman. Cerita seperti apa yang bisa kutulis? Yang berbau misteri dan petualangan. Apa yang bisa menjadi pembeda dengan horor sekolahan yang sudah ada? Aku juga mencari inspirasi dengan membaca beberapa komik horor sekolahan, postingan di forum, hingga blog-blog yang memuat kisah seram.

Setelah mendapat ide dasar, aku mulai menulis sinopsis juga outline, yaitu poin-poin per bab dari prolog hingga epilog, untuk dikirim ke editorku. Sebenarnya, ketika menyerahkan sinopsis dan outline, aku masih belum puas dengan ide secara umum yang kutulis. Rasanya masih ada yang kurang, masih ada yang mengganjal. Aku belum mengenal keempat tokoh utamaku dengan baik–belum sepenuhnya memahami karakter dan pribadi mereka. Tapi, aku nggak punya waktu untuk menggalaukan ideku, jadi aku mulai menulis.

Aku punya kebiasaan untuk menunjukkan draft tulisanku ke teman-teman terdekat untuk minta pendapat mereka. Memang, mungkin banyak yang bilang bahwa tugas editor adalah menyempurnakan naskah penulis, tapi kurasa sebagai penulis, aku harus menyerahkan naskah terbaikku pada editor. Malu, kan, kalau mengaku penulis tapi naskahnya berantakan. 😉 Jadi, aku selalu mengusahakan agar naskahku sudah maksimal ketika sampai ke tangan editor.

Sepanjang penulisan buku ini, aku punya empat orang teman sekaligus tukang bantai pembaca pertama yang sangat membantuku. Pertama, Andi, cowok penuh ide dan imajinasi tinggi yang selalu siap membantuku brainstorming. Lalu, @FarlaLi yang lebih teliti urusan teknis seperti typo, redundancy (ketika ada kata atau kalimat yang sama muncul beberapa kali dalam satu halaman), dan diksi. Kemudian ada @NelFalisha, teman sesama penulis juga yang sangat teliti jika menyangkut konsistensi deskripsi, karakterisasi dan plot hole. Terakhir, @azureila yang sangat kritis dan sempat membantai habis karakterisasi tokoh-tokohku di beberapa bab awal.

Berkat keempatnya, ide cerita Rahasia Lantai Keempat akhirnya lebih solid. Banyak ide baru yang muncul seiring dengan aku menulis. Buku ini mengalami perubahan konsep dari outline yang kuajukan sebelumnya. Sekitar separuh akhir cerita benar-benar sudah menyimpang dari rencana awal. Tapi, aku menyukai versi yang ada sekarang. Aku suka dengan dunia lantai keempat di sekolah mereka. Aku menikmati menulis adegan-adegan yang menegangkan sepanjang petualangan mereka. Aku senang menciptakan latar belakang hubungan saling-silang dan persahabatan di antara keempat tokohku, yang memberi warna pada keseluruhan cerita ini.

Aku sayang pada Nikki, Fara, Neil, dan Randy. Bahkan, Maria.

Dan aku senang sekali, mengetahui mereka yang sudah membaca Rahasia Lantai Keempat juga menerima “anak-anakku” di buku ini dengan baik. Sebagian juga sepertiku; tidak rela berpisah dengan Nikki, Fara Neil dan Randy. Kamu bisa melihat daftar review Rahasia Lantai Keempat di sini.

Akhir kata, aku sangat bersyukur bisa menyelesaikan buku ini. Aku tahu, bahkan dengan segala upayaku untuk memaksimalkan naskah, Rahasia Lantai Keempat bukanlah cerita yang sempurna. Masih ada kekurangan dan ruang untuk perbaikan di sana-sini. Meski begitu, aku bangga akan kisah ini. Aku bangga akan tokoh-tokoh yang kuhadirkan di sini. Dan aku berharap, kalian pun akan menyukai cerita petualangan empat sahabat dalam menjelajahi RAHASIA LANTAI KEEMPAT. 🙂


 

Daaaan sekarang saaatnyaaaaaa………………. GIVEAWAY!!

Iya, dalam blog tour, tentu akan ada hadiah alias giveaway yang menyertai. Yang belum beruntung dalam giveaway sebelumnya, ayo ikutan lagi di sini! Siapa tahu, kali ini nasib berpihak padamu 😉

Oke, langsung saja yaa~

Ketentuan Giveaway

  1. Follow Twitter @rettaniea
  2. Follow Twitter @Bukune (optional)
  3. Subscribe ke blog ini via email. Button ada di sidebar ya.
  4. Share giveaway ini via twitter dengan mention @rettaniea & @bukune menggunakan hashtag #RahasiaLantaiKeempat.
  5. Kuis berlangsung selama blog tour berlangsung. (2 Juli s/d 8 Juli). Pengumuman pemenang selambat-lambatnya pada tanggal 11 Juli 2015 (bisa jadi lebih cepat).
  6. Untuk puncak blog tour ini, akan ada DUA ORANG PEMENANG. Saya akan memilih pemenang yang mengikuti semua aturan giveaway serta memiliki jawaban kuis terbaik. Pemenang akan dihubungi via Twitter dan email. Apabila tak ada respons selama 1×24 jam, saya akan memilih pemenang baru. Pemenang yang sudah pernah memenangkan hadiah yang sama di blog lain, tidak bisa menang lagi, ya.
  7. Giveaway ini khusus untuk kamu yang berdomisili di Indonesia.

 

How to Join

1. Ganti avatar twittermu dengan menambahkan gambar ini selama periode blog tour hingga pengumuman pemenang. (klik kanan dan save as aja untuk menyimpan):

Nanti contoh jadinya seperti ini:

RLK4ava cth

2. Jawab pertanyaan ini:

Mengapa kamu tertarik untuk membaca buku RAHASIA LANTAI KEEMPAT?

3. Buatlah tulisan pendek (boleh deskripsi, boleh flash fiction) dari salah satu gambar di berikut ini:

gambar 01

gambar 01

gambar 02

gambar 02

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Post jawaban di kolom komentar di bawah ini, dengan format:

Nama:
Twitter:
Email:

1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena…

2. Tulisan singkat untuk gambar (01/02)

 

Hadiah

Dua orang pemenang Giveaway pada puncak blog tour ini akan mendapatkan 1 eksemplar Rahasia Lantai Keempat edisi tanda tangan, 1 kaus limited edition dan souvenir dari saya. (Foto souvenir tidak disertakan supaya surprise :p)

IMG-20150607-WA0002

Selamat mencoba dan semoga beruntung!! Ditunggu partisipasinya ya, teman-teman! 🙂

46 comments

  1. Bintang P A says:

    Nama: Bintang P A
    Twitter: @Bintang_Ach
    eMail: bintangpermata45@gmail.com

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena yg pertama, sejak awal, sejak akun twitter @Bukune mem-publish novel ini saya sudah sangat tertarik. Saya memang penggemar novel berbau horror. Salah satunya RLK karya Retty Tania ini. Disaat sy pertama kali melihat covernya, ada gambar 4 remaja berseragam di sebuah gedung yg sepertinya sekolah. Saya mengira waktu itu ceritanya adalah ttg petualangan misteri di sekolah. Namun, setelah membaca reviewnya di bbrp blogtour, ternyata benar. Lebih tepatnya petualangan berlatar belakang perpustakaan. Yg membuat sy tertarik selanjutnya adalah karena berlatarbelakang perpustakaan sekolah, ini bs memberi rasa dan sensasi yang baru. Seolah-olah novel ini membuka pikiran kita bahwa sekolah tidak hanya seperti yg kita pikirkan pada umumnya, namun ada sisi-sisi lain yg tdk kita ketahui dan kadang sisi-sisi lain yg tdk kita ketahui tsb mjd misteri yg berkepanjangan & menimbulkan rasa ketakutan. Dari situlah ketertarikan saya muncul dan saya yakin sensasi yg ditimbulkan dr cerita ini akan berbeda. Krn, selain mengambil latar belakang sekolah/prpstkaan, novel ini jg dibumbui dg tema persahabatan yg memang sgt cocok utk kalangan remaja.
    Selain itu, saya trtrik dg novel ini krn sy mmg bercita2 sbg seorang penulis novel horror. Smg dg membaca novel ini bs memberikan inspirasi buat saya & memberikan ilmu tersendiri buat saya ttg bagaimana menciptakan suasana horror yg benar2 horror & membuat pembaca merinding meski hny dg sebaris kata2. (next)

  2. Bintang P A says:

    2. -Tulisan singkat untuk gambar 01
    Misteri lantai keempat ini memang menimbulkan rasa penasaran juga ketakutan yang amat dalam. Namun, kasus seperti ini juga harus membutuhkan keberanian. Mereka pun bergegas menyusuri tangga sesaat setelah terdengar teriakan seorang gadis dari sana. Mereka ingin mencari kebenaran tentang keberadaan manusia lain di lantai keempat tersebut. Tapi, apakah mereka tahu bahwa ada sosok perempuan yang sedang mengikuti mereka dan tengah berdiri di dekat tangga? Apakah jeritan itu bersumber darinya?

    -Tulisan singkat untuk gambar 2
    Sosok misterius itu pergi dengan meninggalkan sebuah sepatu yg tergeletak di dekat tangga. Misteri ini seolah bertambah panjang begitu mereka mencoba untuk memecahkannya dan menimbulkan teka-teki yang kian runyam. Apabila ditemukan sepatu, mungkinkah jika ada manusia selain mereka berempat yang bisa masuk dan mengetahui tentang lantai keempat ini? Jika benar, apakah dia adalah sosok misterius pemilik sepatu ini? Lantas teka teki apalagi yang harus mereka pecahkan dengan sepatu ini?

    • Rettania says:

      Thank you sudah bikin dua tulisan ^^. Mungkin dari masing-masing tulisan isa lebih dielaborasi sehingga pembaca bisa sedikit menangkap apa yang ingin disampaikan 🙂

  3. Lidya Marselina says:

    Nama : Lidya Marselina
    Twitter : @LidyaMarselina
    Email : lee_dya_mars@yahoo.com
    1. Saya tertarik untuk membaca rahasia lantai keempat karena semua review-er bilang kalau novel ini menegangkan dan nggak cuma sekadar menyeramkan, tapi juga novel ini mengangkat sisi “sahabat”, pasti rasanya asyik bisa membaca dengan dua genre dalam satu cerita. Review-er juga bilang kalau ceritanya bikin penasaran sampai akhir! [Termasuklah jugaaa bikin penasaran aku sebelum baca :'( ] baca review mereka bikin IRI !!!….bisa baca novel yang berhasil bikin merinding gitu cuma lewat ‘baca’. Whaaaa so so so want it :’)

    2. Tulisan singkat untuk gambar 01
    Pukul 22.00.
    Aku melangkahkan tapak demi tapak kaki menaiki anak tangga.
    “Sial! Kenapa harus aku yang kalah di games tadi!” gerutuku dengan sesal yang mendalam.
    Suara jangkrik dan sesekali sahutan burung menghiasi telingaku kala itu. Entah ada angin apa, hari itu aku dengan gagahnya memberanikan diri memilih hukuman ini, menaiki anak tangga tapak demi tapak sekadar untuk menghitung jumlah anak tangga disekolah baruku. Tak ada hal-hal aneh yang terngiang dikepalaku karna otak ini masih terlalu mencaci diri sendiri.
    Langkah kakiku terhenti sampai di anak tangga ke dua puluh dua. Aku memutar kepalaku 180 derajat, mencoba mengenali sosok perempuan yang baru saja lewat dikoridor lantai 2.
    “Kak Metta?” sapaku ragu ragu.
    Namun ia tak menoleh, aku mencoba meneruskan langkah kakiku namun sebuah bayangan hitam terlihat di anak tangga itu, seolah menunjukkan kalau seseorang ada dibelakangku. Otakku mulai berputar sembari melihat bayangan itu, kemudian terbesit satu hal paling menyeramkan dibenakku! “Anak tangga ke 22-lantai 2-pukul 22.00”! Aku teringat seruan kak Pandu yang tadi mengingatkan untuk jangan berkeliaran disana! Jantungku berdegup kencang, aku mencoba melangkahkan kaki kananku lebih dulu meneruskan hitungan konyol itu.
    .
    .
    Dup! Dia memegang pundakku!! Mataku mencoba melihat rupa jarijari sosok bayangan itu! Jari manisnya dihiasi sebuah cincin berwarna silver dengan ukiran huruf………
    Tidak!!!!!!!!

    -dark desc dengan judul : “SCHOOL: The Stairs”

    • Rettania says:

      Hai, terima kasih untuk jawabannya!

      Aku ingin konfirmasi, apa kamu menggunakan email yang berbeda untuk subscribe blog ini melalui email? Supaya bisa aku cek. Thank you!

    • Rettania says:

      Jadi penasaran, ada apa di anak tangga ke-22 di lantai 2 pada pukul 22:00 itu. Lalu, huruf apa yang terukir dari cincim si hantu(?) hehehe…

  4. Lois Ninawati says:

    Nama : Lois Ninawati
    Twitter : @_loisninawati
    email : ninawatilois@gmail.com
    1.Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena penasaran sama ceritanya.
    2.Tulisan singkat untuk gambar 02

    Sepatu yang tertinggal di koridor belakang sekolah, tak pernah di singkirkan oleh siapapun. Semua siswa, anggota guru, bahkan, pak kebun pun. Bahkan, tak banyak siswa yang berani melewati koridor itu. konon katanya, seorang gadis akan menghantui setiap orang yang memindahkan sepatu kesayangannya, meskipun hanya sebelah saja. “Aaa!” terdengar teriakan seorang siswi saat Pak Tio berjalan ke arah belakang. Refleks, beliau berlari, dan melihat seorang sisiwi terduduk membeku. Dan, ada seorang siswi lainnya tergeletak dengan berlumuran darah. Hingga koridor itu dipenuhi oleh puluhan siswa yang lainnya. “Ini tak bisa dibiarkan. Kita harus melakukan sesuatu. sudah banyak siswi yang mengalami hal serupa.” suara bu Rani bergetar. Wawan, yang berada di belakang kerumunan, mulai gelisah. akhirnya, setelah semua kembali tenang, diam-diam, Wawan menuju ke koridor belakang sekolah, tempat sebelah sepatu berwarna merah itu berada. lalu, memandanginya sebentar dan mengambil sepatu tersebut, membalikkan badan, melangkahkan kaki kearah gudang sekolah, mengambil benda, dan, menuju ke kuburan dekat kompleks rumah mantannya. Wanda. Lalu, meletakkan sepasang sepatu itu di samping makam Wanda berada. Wanda ingin, Wawan-lah yang mengembalikan sepatunya.

    • Rettania says:

      Hai, terima kasih untuk jawabannya!

      Aku ingin konfirmasi, apa kamu menggunakan email yang berbeda untuk subscribe blog ini melalui email? Supaya bisa aku cek. Kalau belum, tombol subscribe ada di sidebar ya. Thank you!

  5. Naila K. L. says:

    Nama : Naila K. L.
    Twitter : @NailaKL
    Email : nailakhuria@yahoo.com

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena yang pertama, saya suka cerita yang beraroma horror. Yang kedua, saya penasaran dengan ceritanya setelah membaca beberapa review tentang RLK ini.
    2. Tulisan singkat untuk gambar 01
    Dia berdiri diam di anak tangga. Tidak bergerak barang sedikit. Sekali waktu, ketika tidak sengaja aku mendapatinya tengah berdiri di tempat yang sama, aku ingin melolong atau meraung sejadi-jadinya karena ketakutan melingkupiku. Tapi aku tidak melakukannya. Terkadang, tanpa sadar, aku melewatinya begitu saja. Melupakan keinginan untuk sekadar memekik kaget atau bertanya suatu hal padanya.

    Hari ini, aku melihatnya lagi. Dia berada di tempat yang sama. Anak perempuan itu diam saja. Bahkan ketika aku melewati sosoknya, dia tetap tidak memberi respon apa-apa. Aku ingin sekadar menyumbang suara, bertanya untuk apa dia di sana setiap waktu. Barangkali, dia memang sudah ada di sana sejak bertahun lalu. Barangkali, dia hantu sekolahku. Tapi bagiku, dia hanya seorang murid perempuan yang kehilangan sesuatu.

  6. Tri Indah Permatasari says:

    BUMI DAN SEGALA KENIKMATANNYA
    By : Tri Indah Permatasari

    Dikala mentari muncul dari peraduannya
    Berkas cahayanya memantulkan pelangi
    Kicauan burung menyambut gembira
    Pepohonan menari diiringi terpaan angin yang syahdu

    Jutaan langkah kaki tercipta menyusuri jalanan
    Mencari kepastian akan masa depan penerusnya
    Menghantarkan sang generasi dalam pencarian jati diri

    Tapi tebalnya dinding keserakahan sang peneguk peluh
    Membuat semua itu seakan pudar tak bernilai

    Tapi percayalah bahwa mereka tidak akan pernah hancur
    Karena nikmat tuhan takkan habis untuk mereka yang tak pernah mendusta

    Palembang, 05 Juli 2015

    Tri Indah Permatasari, seorang gadis Palembang yang lahir pada tanggal 04 Januari 1991. Menyukai dunia sastra sejak ia memasuki jenjang pendidikan menengah, mulai rajin menulis sajak dan beberapa cerita yang hanya ia simpan untuk dinikmati sendiri. Memiliki kun facebook dan twitter, yaitu Tri Yusuf Ciduk dan @LiebeIs0503.
    Nama: Tri Indah Permatasari
    Twitter: @ LiebeIs0503
    Email: triindah.permatasari@yahoo.co.id

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena aku tertarik dengan novel ini. Segala genre novel aku suka, tapi untuk tertarik pada bukunya aku membiasakan diri mencari review buku itu dulu. Dan, ketika aku berhasil membaca beberapa review dari buku ini. hasilnya, aku tertarik apalagi ketika melihat giveaway ini. hehe. ini novel bergenre horror remaja yang di beri penilaian oleh reviewer sebagai buku horror yang mencekam dan berhasil
    membuat pembaca bisa merasakan situasi yang mencekam disetiap halamannya, membuat semakin penasaran dengan munculnya begitu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab dengan satu cara. membaca buku ini sampai akhir. so, sebagai salah satu penikmat buku horror bagaimana bisa aku hanya membiarkan alunan yang mencekam ini terbuang begitu saja tanpa kurasakan. apalagi mendapat kesempatan untuk menikmatinya secara gratis. Aku tertarik dengan buku ini dan aku menginginkannya.
    2. “Ayolah Dimas, dimana kau melihat sepatunya Satria? Sudah jam berapa ini? Aku takut nih?” Rengek Firman saat ia bersama keempat temannya yang lain tengah mencari sepatu Firman, teman sekelas mereka yang tadi pagi ditemukan meninggal di salah satu koridor sekolah.
    Karena takut nama baik sekolah tercoreng, pihak sekolah menutupi kasus ini. Mereka hanya malah menyalahkan keluarga Firman yang tidak bisa menjaganya dengan baik dan mengelak saat dituduh ditidak bertanggung jawab pada muridnya. Alasannya, karena mereka telah memeriksa seluruh sekolah disetiap jam pelajaran usai, memastikan apakah seluruh siswa telah pulang. Dan kemarin, satu hari sebelum ditemukannya mayat Firman, pihak sekolah memastikan bahwa disekolah tidak ada siapipun sampai mereka akhirnya mengunci setiap kelas beserta ruangan dan menggembok pagar sekolah.
    “Hei, tunggu. Berhenti. Itu. Disana. Sepatunya ada disana.” Aku berteriak pada keempat temanku yang telah berjalan jauh didepanku.
    “Dimana?” tanya Rio, salah satu temanku sembari pencari benda yang kumaksud tadi.
    “Kau saja Lex yang mengambilnya.” Egi mendorong tubuh Alex yang memliki postur lebih besar diantara kami berlima.
    “Kenapa harus aku?” protes Alex, terlihat jelas raut wajahnya yang ketakutan.
    “Kau ini, badanmu kan yang paling besar. Harusnya kau itu lebih berani darikami. Ayo maju.” Rio tampak kesal melihat temannya itu yang penakut.
    “Sudah biar aku saja.” Perlahan aku melangkahkan kaki mendekati sepatu itu. Suasana yang tadinya hening tiba-tiba saja menjadi terasa begitu mencekam. Angin yang tiba-tiba berhembus kencang dari arah depan membuat daun-daun kering yang berjatuhan di halaman sekolah berterbangann tidak karuan.
    “Hati-hati Dim.” Ucap Rio perlahan, suaranya terdengar sedikit bergetar.
    “Ini?” Gumamku saat telah berhasil mengambil sepatu itu dan memeriksanya. Aku meliihat sesuatu yang mencurigakan disana.
    “Ada apa?” tanya Alex yang mulai berani berjalan perlahan mendekatiku, diikuti oleh temanku yang lainnya.
    “Ini bukan sepatu Firman, aku ingat sekali saat pelajaran olahraga kemarin aku melihat sepatu ini. Bukankah ini sepatu Dion?” aku yakin sekali dengan apa yang kukatakan. Ini bukanlah sepatu Firman, melainkan sepatu Dion teman kelasku yang lainnya. Tapi masalahnya, Kenapa sepatu Dion disini? Atau jangan-jangan Dion yang membunuh Firman? Tapi kenapa? Begitu banyak pertanyaan menghantui pikiranku.
    “Kau ini jangan sembarang bicara. Bagaimana bisa kau yakin ini sepatu Dion. Bukankah banyak diantara kita yang memakai jenis sepatu yang sama? Lihat sepatuku dan Alex, sama kan? Hanya beda di ukurannya saja.” Sebenarnya Rio juga sedikit curiga dan ia juga yakin bahwa itu sepatu Dion. Terlihat jelas dari wajahnya yang sedang berpikir dan meginat-ingat sesuatu, tapi tetaplah harusnya kami memilih bungkam. Karena Dion adalah anak dari Pak Joko, pemilik sekolah ini. Dia yang membangun yayasan tempat kami bersekolah ini.
    “Tapi….” Alex tiba-tiba saja terdiam, tidak bukan hanya Alex, tapi kami semua. Karena kami merasakan sesuatu yang dingin dibelakang kami. Apakah itu pertanda ada sesuatu dibelakang kami?
    “Dim, apa.. apa kau merasakan sesuatu yang aneh?” tanya Alex dengan tuubuhnya yang bergetar ketakutan.
    “Iya. Tapi.” Aku sedikit ragu, rasanya ingin untuk mencari tahu ada apa dibelakang kami. Tapi entah kenapa rasa takut itu begitu kuat menahan tubuhku untuk tidak berbali.
    “Dim.” Panggil seseorang, arah suaranya tepat dibelakang kami. Dan terasa dingin di bagian tekukku.
    Perlahan kami memberanikan diri untuk menoleh kebelakang, bersama kami saling mengenggam tangan satu sama lain.
    “Firmaaaaaannnn!” teriak kami serentak ketika melihat sosok hantu Firman berdiri tepat diihadapan kami. Kami pun segera berlari menjauh tanpa arah.
    “Tunggu!” teriak hantu Firman. Membuat kami menghentikan langkah seribu kami bersamaan dan kembali menoleh kearah Firman.
    “Ada apa? Kau ada perlu apa sama kami?” tanyaku sedikit memberanikan diri.
    “Kalian benar, Dion yang membunuhku. Dia semalam mengajakku kesini, aku tidak tahu ada apa jadi aku ikuti saja. Dan entah kenapa tiba-tiba Dion menyerangku, dia memukuliku. Aku berusaha membela diri dan mencari tahu alasan dia melakukan itu padaku. Dia berkata, dia tidak suka padaku karena dia pikir aku telah merebut Sinta darinya. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa berpikir seperti itu. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku dan Sinta tidak ada hubungan apa-apa. Jika memang kami sering terlihat bersama, itu karena aku dan Sinta ternyata masih memiliki hubungan saudara, Sinta anak dari kakak iparnya ibuku. Aku tidak ingin membuat ibuku menangis karena kematianku ini, aku mohon pada kalian untuk mengungkap kematianku, katakana apa yang sebenarnya terjadi. Sepatu itu, aku sengaja membawanya berlari, ia tidak menyadari sepatunya terlepas saat ia jatuh tersungkur akibat pukulanku. Kupikir itu bisa menjadi barang bukti dan mengadukan tindakan kekerasan itu pada pihak sekolah. Tapi aku terlambat, dia menusukku dari belakang secara bertubi-tubi. Melihat aku jatuh tersungkur dengan bercucuran darah yang banyak. Dion berlari meninggalkanku. Sepatuku, ada di belakang gedung perpustakaan. Tempat dia mengajakku janjian bertemu. Aku tak sengaja melepaskannya karena aku berlari kencang ketakutan ketika dia terus-terusan memukulku dan mengancamku dengan pisau.” Hatiku bergetar hebat mendengar cerita yang sebenarnya dari Firman, bagaimana bisa Firman harus kehilangan nyawanya hanya karena hal sepele itu. Firman terlihat menyesal atas kematiannya, cita-cita Firman yang ingin menjadi salah satu Penulis terkenal musnah begitu saja karena ulah temannya sendiri.
    “Aku janji sama kamu Fir. Aku janji akan mengungkap semua ini. Aku akan mengatakan sebenarnya. Percayalah pada kami.” Ingin rasanya aku memeluk tubuh Firman, tapi kurasa itu mustahil, karena kami kini berbeda dunia.
    “Satu lagi, katakana pada ibuku, bahwa aku sangat menyayanginya.” Aku melihat senyum getir dari bibir Firman. Ia pasti tidak rela harus meninggalkan ibunya hidup sendirian di dunia ini.
    “Kau harus yakin, Fir. Ibumu pasti akan baik-baik saja. Kami berjanji akan sesekali menjenguk ibumu. Kami akan membantumu menjaganya.” Alex berusaha menenangkan Firman. Dan ia berhasil, Firman tersenyum bahagia dan berpamitan pada kami.
    “Kami akan selalu mendo’akanmu Firman. Tenanglah engkau disana. Dan do’akan ibumu selalu sehat dan hidup bahagia disini.” Aku mengenggam erat sepatu milik Dion. Tunggu saja. Mmisteri kematian Firman akan segera terungkap besok.

    • Tri Indah Permatasari says:

      maaf kak, ini salah. karena netiknya tadi di ms word. habbis ngetik puisi jadi di sambung saja. pas mau copas kesini lupa puisinya tadi ikutan di copy juga. maaf ya kak. tapi itu sudah dikirim sesuai format yang benar.

  7. Tri Indah Permatasari says:

    Nama: Tri Indah Permatasari
    Twitter: @ LiebeIs0503
    Email: triindah.permatasari@yahoo.co.id

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena aku tertarik dengan novel ini. Segala genre novel aku suka, tapi untuk tertarik pada bukunya aku membiasakan diri mencari review buku itu dulu. Dan, ketika aku berhasil membaca beberapa review dari buku ini. hasilnya, aku tertarik apalagi ketika melihat giveaway ini. hehe. ini novel bergenre horror remaja yang di beri penilaian oleh reviewer sebagai buku horror yang mencekam dan berhasil
    membuat pembaca bisa merasakan situasi yang mencekam disetiap halamannya, membuat semakin penasaran dengan munculnya begitu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab dengan satu cara. membaca buku ini sampai akhir. so, sebagai salah satu penikmat buku horror bagaimana bisa aku hanya membiarkan alunan yang mencekam ini terbuang begitu saja tanpa kurasakan. apalagi mendapat kesempatan untuk menikmatinya secara gratis. Aku tertarik dengan buku ini dan aku menginginkannya.
    2. “Ayolah Dimas, dimana kau melihat sepatunya Satria? Sudah jam berapa ini? Aku takut nih?” Rengek Firman saat ia bersama keempat temannya yang lain tengah mencari sepatu Firman, teman sekelas mereka yang tadi pagi ditemukan meninggal di salah satu koridor sekolah.
    Karena takut nama baik sekolah tercoreng, pihak sekolah menutupi kasus ini. Mereka hanya malah menyalahkan keluarga Firman yang tidak bisa menjaganya dengan baik dan mengelak saat dituduh ditidak bertanggung jawab pada muridnya. Alasannya, karena mereka telah memeriksa seluruh sekolah disetiap jam pelajaran usai, memastikan apakah seluruh siswa telah pulang. Dan kemarin, satu hari sebelum ditemukannya mayat Firman, pihak sekolah memastikan bahwa disekolah tidak ada siapipun sampai mereka akhirnya mengunci setiap kelas beserta ruangan dan menggembok pagar sekolah.
    “Hei, tunggu. Berhenti. Itu. Disana. Sepatunya ada disana.” Aku berteriak pada keempat temanku yang telah berjalan jauh didepanku.
    “Dimana?” tanya Rio, salah satu temanku sembari pencari benda yang kumaksud tadi.
    “Kau saja Lex yang mengambilnya.” Egi mendorong tubuh Alex yang memliki postur lebih besar diantara kami berlima.
    “Kenapa harus aku?” protes Alex, terlihat jelas raut wajahnya yang ketakutan.
    “Kau ini, badanmu kan yang paling besar. Harusnya kau itu lebih berani darikami. Ayo maju.” Rio tampak kesal melihat temannya itu yang penakut.
    “Sudah biar aku saja.” Perlahan aku melangkahkan kaki mendekati sepatu itu. Suasana yang tadinya hening tiba-tiba saja menjadi terasa begitu mencekam. Angin yang tiba-tiba berhembus kencang dari arah depan membuat daun-daun kering yang berjatuhan di halaman sekolah berterbangann tidak karuan.
    “Hati-hati Dim.” Ucap Rio perlahan, suaranya terdengar sedikit bergetar.
    “Ini?” Gumamku saat telah berhasil mengambil sepatu itu dan memeriksanya. Aku meliihat sesuatu yang mencurigakan disana.
    “Ada apa?” tanya Alex yang mulai berani berjalan perlahan mendekatiku, diikuti oleh temanku yang lainnya.
    “Ini bukan sepatu Firman, aku ingat sekali saat pelajaran olahraga kemarin aku melihat sepatu ini. Bukankah ini sepatu Dion?” aku yakin sekali dengan apa yang kukatakan. Ini bukanlah sepatu Firman, melainkan sepatu Dion teman kelasku yang lainnya. Tapi masalahnya, Kenapa sepatu Dion disini? Atau jangan-jangan Dion yang membunuh Firman? Tapi kenapa? Begitu banyak pertanyaan menghantui pikiranku.
    “Kau ini jangan sembarang bicara. Bagaimana bisa kau yakin ini sepatu Dion. Bukankah banyak diantara kita yang memakai jenis sepatu yang sama? Lihat sepatuku dan Alex, sama kan? Hanya beda di ukurannya saja.” Sebenarnya Rio juga sedikit curiga dan ia juga yakin bahwa itu sepatu Dion. Terlihat jelas dari wajahnya yang sedang berpikir dan meginat-ingat sesuatu, tapi tetaplah harusnya kami memilih bungkam. Karena Dion adalah anak dari Pak Joko, pemilik sekolah ini. Dia yang membangun yayasan tempat kami bersekolah ini.
    “Tapi….” Alex tiba-tiba saja terdiam, tidak bukan hanya Alex, tapi kami semua. Karena kami merasakan sesuatu yang dingin dibelakang kami. Apakah itu pertanda ada sesuatu dibelakang kami?
    “Dim, apa.. apa kau merasakan sesuatu yang aneh?” tanya Alex dengan tuubuhnya yang bergetar ketakutan.
    “Iya. Tapi.” Aku sedikit ragu, rasanya ingin untuk mencari tahu ada apa dibelakang kami. Tapi entah kenapa rasa takut itu begitu kuat menahan tubuhku untuk tidak berbali.
    “Dim.” Panggil seseorang, arah suaranya tepat dibelakang kami. Dan terasa dingin di bagian tekukku.
    Perlahan kami memberanikan diri untuk menoleh kebelakang, bersama kami saling mengenggam tangan satu sama lain.
    “Firmaaaaaannnn!” teriak kami serentak ketika melihat sosok hantu Firman berdiri tepat diihadapan kami. Kami pun segera berlari menjauh tanpa arah.
    “Tunggu!” teriak hantu Firman. Membuat kami menghentikan langkah seribu kami bersamaan dan kembali menoleh kearah Firman.
    “Ada apa? Kau ada perlu apa sama kami?” tanyaku sedikit memberanikan diri.
    “Kalian benar, Dion yang membunuhku. Dia semalam mengajakku kesini, aku tidak tahu ada apa jadi aku ikuti saja. Dan entah kenapa tiba-tiba Dion menyerangku, dia memukuliku. Aku berusaha membela diri dan mencari tahu alasan dia melakukan itu padaku. Dia berkata, dia tidak suka padaku karena dia pikir aku telah merebut Sinta darinya. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa berpikir seperti itu. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku dan Sinta tidak ada hubungan apa-apa. Jika memang kami sering terlihat bersama, itu karena aku dan Sinta ternyata masih memiliki hubungan saudara, Sinta anak dari kakak iparnya ibuku. Aku tidak ingin membuat ibuku menangis karena kematianku ini, aku mohon pada kalian untuk mengungkap kematianku, katakana apa yang sebenarnya terjadi. Sepatu itu, aku sengaja membawanya berlari, ia tidak menyadari sepatunya terlepas saat ia jatuh tersungkur akibat pukulanku. Kupikir itu bisa menjadi barang bukti dan mengadukan tindakan kekerasan itu pada pihak sekolah. Tapi aku terlambat, dia menusukku dari belakang secara bertubi-tubi. Melihat aku jatuh tersungkur dengan bercucuran darah yang banyak. Dion berlari meninggalkanku. Sepatuku, ada di belakang gedung perpustakaan. Tempat dia mengajakku janjian bertemu. Aku tak sengaja melepaskannya karena aku berlari kencang ketakutan ketika dia terus-terusan memukulku dan mengancamku dengan pisau.” Hatiku bergetar hebat mendengar cerita yang sebenarnya dari Firman, bagaimana bisa Firman harus kehilangan nyawanya hanya karena hal sepele itu. Firman terlihat menyesal atas kematiannya, cita-cita Firman yang ingin menjadi salah satu Penulis terkenal musnah begitu saja karena ulah temannya sendiri.
    “Aku janji sama kamu Fir. Aku janji akan mengungkap semua ini. Aku akan mengatakan sebenarnya. Percayalah pada kami.” Ingin rasanya aku memeluk tubuh Firman, tapi kurasa itu mustahil, karena kami kini berbeda dunia.
    “Satu lagi, katakana pada ibuku, bahwa aku sangat menyayanginya.” Aku melihat senyum getir dari bibir Firman. Ia pasti tidak rela harus meninggalkan ibunya hidup sendirian di dunia ini.
    “Kau harus yakin, Fir. Ibumu pasti akan baik-baik saja. Kami berjanji akan sesekali menjenguk ibumu. Kami akan membantumu menjaganya.” Alex berusaha menenangkan Firman. Dan ia berhasil, Firman tersenyum bahagia dan berpamitan pada kami.
    “Kami akan selalu mendo’akanmu Firman. Tenanglah engkau disana. Dan do’akan ibumu selalu sehat dan hidup bahagia disini.” Aku mengenggam erat sepatu milik Dion. Tunggu saja. Mmisteri kematian Firman akan segera terungkap besok.

  8. Tri Indah Permatasari says:

    Nama: Tri Indah Permatasari
    Twitter: @ LiebeIs0503
    Email: triindah.permatasari@yahoo.co.id

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena aku tertarik dengan novel ini. Segala genre novel aku suka, tapi untuk tertarik pada bukunya aku membiasakan diri mencari review buku itu dulu. Dan, ketika aku berhasil membaca beberapa review dari buku ini. hasilnya, aku tertarik apalagi ketika melihat giveaway ini. hehe. ini novel bergenre horror remaja yang di beri penilaian oleh reviewer sebagai buku horror yang mencekam dan berhasil
    membuat pembaca bisa merasakan situasi yang mencekam disetiap halamannya, membuat semakin penasaran dengan munculnya begitu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab dengan satu cara. membaca buku ini sampai akhir. so, sebagai salah satu penikmat buku horror bagaimana bisa aku hanya membiarkan alunan yang mencekam ini terbuang begitu saja tanpa kurasakan. apalagi mendapat kesempatan untuk menikmatinya secara gratis. Aku tertarik dengan buku ini dan aku menginginkannya.
    2. Tulisan singkat untuk gambar 02 (flasfiction)
    “Ayolah Dimas, dimana kau melihat sepatunya Satria? Sudah jam berapa ini? Aku takut nih?” Rengek Firman saat ia bersama keempat temannya yang lain tengah mencari sepatu Firman, teman sekelas mereka yang tadi pagi ditemukan meninggal di salah satu koridor sekolah.
    Karena takut nama baik sekolah tercoreng, pihak sekolah menutupi kasus ini. Mereka hanya malah menyalahkan keluarga Firman yang tidak bisa menjaganya dengan baik dan mengelak saat dituduh ditidak bertanggung jawab pada muridnya. Alasannya, karena mereka telah memeriksa seluruh sekolah disetiap jam pelajaran usai, memastikan apakah seluruh siswa telah pulang. Dan kemarin, satu hari sebelum ditemukannya mayat Firman, pihak sekolah memastikan bahwa disekolah tidak ada siapipun sampai mereka akhirnya mengunci setiap kelas beserta ruangan dan menggembok pagar sekolah.
    “Hei, tunggu. Berhenti. Itu. Disana. Sepatunya ada disana.” Aku berteriak pada keempat temanku yang telah berjalan jauh didepanku.
    “Dimana?” tanya Rio, salah satu temanku sembari pencari benda yang kumaksud tadi.
    “Kau saja Lex yang mengambilnya.” Egi mendorong tubuh Alex yang memliki postur lebih besar diantara kami berlima.
    “Kenapa harus aku?” protes Alex, terlihat jelas raut wajahnya yang ketakutan.
    “Kau ini, badanmu kan yang paling besar. Harusnya kau itu lebih berani darikami. Ayo maju.” Rio tampak kesal melihat temannya itu yang penakut.
    “Sudah biar aku saja.” Perlahan aku melangkahkan kaki mendekati sepatu itu. Suasana yang tadinya hening tiba-tiba saja menjadi terasa begitu mencekam. Angin yang tiba-tiba berhembus kencang dari arah depan membuat daun-daun kering yang berjatuhan di halaman sekolah berterbangann tidak karuan.
    “Hati-hati Dim.” Ucap Rio perlahan, suaranya terdengar sedikit bergetar.
    “Ini?” Gumamku saat telah berhasil mengambil sepatu itu dan memeriksanya. Aku meliihat sesuatu yang mencurigakan disana.
    “Ada apa?” tanya Alex yang mulai berani berjalan perlahan mendekatiku, diikuti oleh temanku yang lainnya.
    “Ini bukan sepatu Firman, aku ingat sekali saat pelajaran olahraga kemarin aku melihat sepatu ini. Bukankah ini sepatu Dion?” aku yakin sekali dengan apa yang kukatakan. Ini bukanlah sepatu Firman, melainkan sepatu Dion teman kelasku yang lainnya. Tapi masalahnya, Kenapa sepatu Dion disini? Atau jangan-jangan Dion yang membunuh Firman? Tapi kenapa? Begitu banyak pertanyaan menghantui pikiranku.
    “Kau ini jangan sembarang bicara. Bagaimana bisa kau yakin ini sepatu Dion. Bukankah banyak diantara kita yang memakai jenis sepatu yang sama? Lihat sepatuku dan Alex, sama kan? Hanya beda di ukurannya saja.” Sebenarnya Rio juga sedikit curiga dan ia juga yakin bahwa itu sepatu Dion. Terlihat jelas dari wajahnya yang sedang berpikir dan meginat-ingat sesuatu, tapi tetaplah harusnya kami memilih bungkam. Karena Dion adalah anak dari Pak Joko, pemilik sekolah ini. Dia yang membangun yayasan tempat kami bersekolah ini.
    “Tapi….” Alex tiba-tiba saja terdiam, tidak bukan hanya Alex, tapi kami semua. Karena kami merasakan sesuatu yang dingin dibelakang kami. Apakah itu pertanda ada sesuatu dibelakang kami?
    “Dim, apa.. apa kau merasakan sesuatu yang aneh?” tanya Alex dengan tuubuhnya yang bergetar ketakutan.
    “Iya. Tapi.” Aku sedikit ragu, rasanya ingin untuk mencari tahu ada apa dibelakang kami. Tapi entah kenapa rasa takut itu begitu kuat menahan tubuhku untuk tidak berbali.
    “Dim.” Panggil seseorang, arah suaranya tepat dibelakang kami. Dan terasa dingin di bagian tekukku.
    Perlahan kami memberanikan diri untuk menoleh kebelakang, bersama kami saling mengenggam tangan satu sama lain.
    “Firmaaaaaannnn!” teriak kami serentak ketika melihat sosok hantu Firman berdiri tepat diihadapan kami. Kami pun segera berlari menjauh tanpa arah.
    “Tunggu!” teriak hantu Firman. Membuat kami menghentikan langkah seribu kami bersamaan dan kembali menoleh kearah Firman.
    “Ada apa? Kau ada perlu apa sama kami?” tanyaku sedikit memberanikan diri.
    “Kalian benar, Dion yang membunuhku. Dia semalam mengajakku kesini, aku tidak tahu ada apa jadi aku ikuti saja. Dan entah kenapa tiba-tiba Dion menyerangku, dia memukuliku. Aku berusaha membela diri dan mencari tahu alasan dia melakukan itu padaku. Dia berkata, dia tidak suka padaku karena dia pikir aku telah merebut Sinta darinya. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa berpikir seperti itu. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku dan Sinta tidak ada hubungan apa-apa. Jika memang kami sering terlihat bersama, itu karena aku dan Sinta ternyata masih memiliki hubungan saudara, Sinta anak dari kakak iparnya ibuku. Aku tidak ingin membuat ibuku menangis karena kematianku ini, aku mohon pada kalian untuk mengungkap kematianku, katakana apa yang sebenarnya terjadi. Sepatu itu, aku sengaja membawanya berlari, ia tidak menyadari sepatunya terlepas saat ia jatuh tersungkur akibat pukulanku. Kupikir itu bisa menjadi barang bukti dan mengadukan tindakan kekerasan itu pada pihak sekolah. Tapi aku terlambat, dia menusukku dari belakang secara bertubi-tubi. Melihat aku jatuh tersungkur dengan bercucuran darah yang banyak. Dion berlari meninggalkanku. Sepatuku, ada di belakang gedung perpustakaan. Tempat dia mengajakku janjian bertemu. Aku tak sengaja melepaskannya karena aku berlari kencang ketakutan ketika dia terus-terusan memukulku dan mengancamku dengan pisau.” Hatiku bergetar hebat mendengar cerita yang sebenarnya dari Firman, bagaimana bisa Firman harus kehilangan nyawanya hanya karena hal sepele itu. Firman terlihat menyesal atas kematiannya, cita-cita Firman yang ingin menjadi salah satu Penulis terkenal musnah begitu saja karena ulah temannya sendiri.
    “Aku janji sama kamu Fir. Aku janji akan mengungkap semua ini. Aku akan mengatakan sebenarnya. Percayalah pada kami.” Ingin rasanya aku memeluk tubuh Firman, tapi kurasa itu mustahil, karena kami kini berbeda dunia.
    “Satu lagi, katakana pada ibuku, bahwa aku sangat menyayanginya.” Aku melihat senyum getir dari bibir Firman. Ia pasti tidak rela harus meninggalkan ibunya hidup sendirian di dunia ini.
    “Kau harus yakin, Fir. Ibumu pasti akan baik-baik saja. Kami berjanji akan sesekali menjenguk ibumu. Kami akan membantumu menjaganya.” Alex berusaha menenangkan Firman. Dan ia berhasil, Firman tersenyum bahagia dan berpamitan pada kami.
    “Kami akan selalu mendo’akanmu Firman. Tenanglah engkau disana. Dan do’akan ibumu selalu sehat dan hidup bahagia disini.” Aku mengenggam erat sepatu milik Dion. Tunggu saja. Misteri kematian Firman akan segera terungkap besok.

  9. Tri Indah Permatasari says:

    Nama: Tri Indah Permatasari
    Twitter: @ LiebeIs0503
    Email: triindah.permatasari@yahoo.co.id

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena aku tertarik dengan novel ini. Segala genre novel aku suka, tapi untuk tertarik pada bukunya aku membiasakan diri mencari review buku itu dulu. Dan, ketika aku berhasil membaca beberapa review dari buku ini. hasilnya, aku tertarik apalagi ketika melihat giveaway ini. hehe. ini novel bergenre horror remaja yang di beri penilaian oleh reviewer sebagai buku horror yang mencekam dan berhasil
    membuat pembaca bisa merasakan situasi yang mencekam disetiap halamannya, membuat semakin penasaran dengan munculnya begitu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab dengan satu cara. membaca buku ini sampai akhir. so, sebagai salah satu penikmat buku horror bagaimana bisa aku hanya membiarkan alunan yang mencekam ini terbuang begitu saja tanpa kurasakan. apalagi mendapat kesempatan untuk menikmatinya secara gratis. Aku tertarik dengan buku ini dan aku menginginkannya.
    2. Tulisan singkat untuk gambar no 02 (flasfiction)
    “Ayolah Dimas, dimana kau melihat sepatunya Firman? Sudah jam berapa ini? Aku takut nih?” Rengek Satria saat ia bersama keempat temannya yang lain tengah mencari sepatu Firman, teman sekelas mereka yang tadi pagi ditemukan meninggal di salah satu koridor sekolah.
    Karena takut nama baik sekolah tercoreng, pihak sekolah menutupi kasus ini. Mereka hanya malah menyalahkan keluarga Firman yang tidak bisa menjaganya dengan baik dan mengelak saat dituduh ditidak bertanggung jawab pada muridnya. Alasannya, karena mereka telah memeriksa seluruh sekolah disetiap jam pelajaran usai, memastikan apakah seluruh siswa telah pulang. Dan kemarin, satu hari sebelum ditemukannya mayat Firman, pihak sekolah memastikan bahwa disekolah tidak ada siapipun sampai mereka akhirnya mengunci setiap kelas beserta ruangan dan menggembok pagar sekolah.
    “Hei, tunggu. Berhenti. Itu. Disana. Sepatunya ada disana.” Aku berteriak pada keempat temanku yang telah berjalan jauh didepanku.
    “Dimana?” tanya Rio, salah satu temanku sembari pencari benda yang kumaksud tadi.
    “Kau saja Lex yang mengambilnya.” Egi mendorong tubuh Alex yang memliki postur lebih besar diantara kami berlima.
    “Kenapa harus aku?” protes Alex, terlihat jelas raut wajahnya yang ketakutan.
    “Kau ini, badanmu kan yang paling besar. Harusnya kau itu lebih berani darikami. Ayo maju.” Rio tampak kesal melihat temannya itu yang penakut.
    “Sudah biar aku saja.” Perlahan aku melangkahkan kaki mendekati sepatu itu. Suasana yang tadinya hening tiba-tiba saja menjadi terasa begitu mencekam. Angin yang tiba-tiba berhembus kencang dari arah depan membuat daun-daun kering yang berjatuhan di halaman sekolah berterbangann tidak karuan.
    “Hati-hati Dim.” Ucap Rio perlahan, suaranya terdengar sedikit bergetar.
    “Ini?” Gumamku saat telah berhasil mengambil sepatu itu dan memeriksanya. Aku meliihat sesuatu yang mencurigakan disana.
    “Ada apa?” tanya Alex yang mulai berani berjalan perlahan mendekatiku, diikuti oleh temanku yang lainnya.
    “Ini bukan sepatu Firman, aku ingat sekali saat pelajaran olahraga kemarin aku melihat sepatu ini. Bukankah ini sepatu Dion?” aku yakin sekali dengan apa yang kukatakan. Ini bukanlah sepatu Firman, melainkan sepatu Dion teman kelasku yang lainnya. Tapi masalahnya, Kenapa sepatu Dion disini? Atau jangan-jangan Dion yang membunuh Firman? Tapi kenapa? Begitu banyak pertanyaan menghantui pikiranku.
    “Kau ini jangan sembarang bicara. Bagaimana bisa kau yakin ini sepatu Dion. Bukankah banyak diantara kita yang memakai jenis sepatu yang sama? Lihat sepatuku dan Alex, sama kan? Hanya beda di ukurannya saja.” Sebenarnya Rio juga sedikit curiga dan ia juga yakin bahwa itu sepatu Dion. Terlihat jelas dari wajahnya yang sedang berpikir dan meginat-ingat sesuatu, tapi tetaplah harusnya kami memilih bungkam. Karena Dion adalah anak dari Pak Joko, pemilik sekolah ini. Dia yang membangun yayasan tempat kami bersekolah ini.
    “Tapi….” Alex tiba-tiba saja terdiam, tidak bukan hanya Alex, tapi kami semua. Karena kami merasakan sesuatu yang dingin dibelakang kami. Apakah itu pertanda ada sesuatu dibelakang kami?
    “Dim, apa.. apa kau merasakan sesuatu yang aneh?” tanya Alex dengan tuubuhnya yang bergetar ketakutan.
    “Iya. Tapi.” Aku sedikit ragu, rasanya ingin untuk mencari tahu ada apa dibelakang kami. Tapi entah kenapa rasa takut itu begitu kuat menahan tubuhku untuk tidak berbali.
    “Dim.” Panggil seseorang, arah suaranya tepat dibelakang kami. Dan terasa dingin di bagian tekukku.
    Perlahan kami memberanikan diri untuk menoleh kebelakang, bersama kami saling mengenggam tangan satu sama lain.
    “Firmaaaaaannnn!” teriak kami serentak ketika melihat sosok hantu Firman berdiri tepat diihadapan kami. Kami pun segera berlari menjauh tanpa arah.
    “Tunggu!” teriak hantu Firman. Membuat kami menghentikan langkah seribu kami bersamaan dan kembali menoleh kearah Firman.
    “Ada apa? Kau ada perlu apa sama kami?” tanyaku sedikit memberanikan diri.
    “Kalian benar, Dion yang membunuhku. Dia semalam mengajakku kesini, aku tidak tahu ada apa jadi aku ikuti saja. Dan entah kenapa tiba-tiba Dion menyerangku, dia memukuliku. Aku berusaha membela diri dan mencari tahu alasan dia melakukan itu padaku. Dia berkata, dia tidak suka padaku karena dia pikir aku telah merebut Sinta darinya. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa berpikir seperti itu. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku dan Sinta tidak ada hubungan apa-apa. Jika memang kami sering terlihat bersama, itu karena aku dan Sinta ternyata masih memiliki hubungan saudara, Sinta anak dari kakak iparnya ibuku. Aku tidak ingin membuat ibuku menangis karena kematianku ini, aku mohon pada kalian untuk mengungkap kematianku, katakana apa yang sebenarnya terjadi. Sepatu itu, aku sengaja membawanya berlari, ia tidak menyadari sepatunya terlepas saat ia jatuh tersungkur akibat pukulanku. Kupikir itu bisa menjadi barang bukti dan mengadukan tindakan kekerasan itu pada pihak sekolah. Tapi aku terlambat, dia menusukku dari belakang secara bertubi-tubi. Melihat aku jatuh tersungkur dengan bercucuran darah yang banyak. Dion berlari meninggalkanku. Sepatuku, ada di belakang gedung perpustakaan. Tempat dia mengajakku janjian bertemu. Aku tak sengaja melepaskannya karena aku berlari kencang ketakutan ketika dia terus-terusan memukulku dan mengancamku dengan pisau.” Hatiku bergetar hebat mendengar cerita yang sebenarnya dari Firman, bagaimana bisa Firman harus kehilangan nyawanya hanya karena hal sepele itu. Firman terlihat menyesal atas kematiannya, cita-cita Firman yang ingin menjadi salah satu Penulis terkenal musnah begitu saja karena ulah temannya sendiri.
    “Aku janji sama kamu Fir. Aku janji akan mengungkap semua ini. Aku akan mengatakan sebenarnya. Percayalah pada kami.” Ingin rasanya aku memeluk tubuh Firman, tapi kurasa itu mustahil, karena kami kini berbeda dunia.
    “Satu lagi, katakana pada ibuku, bahwa aku sangat menyayanginya.” Aku melihat senyum getir dari bibir Firman. Ia pasti tidak rela harus meninggalkan ibunya hidup sendirian di dunia ini.
    “Kau harus yakin, Fir. Ibumu pasti akan baik-baik saja. Kami berjanji akan sesekali menjenguk ibumu. Kami akan membantumu menjaganya.” Alex berusaha menenangkan Firman. Dan ia berhasil, Firman tersenyum bahagia dan berpamitan pada kami.
    “Kami akan selalu mendo’akanmu Firman. Tenanglah engkau disana. Dan do’akan ibumu selalu sehat dan hidup bahagia disini.” Aku mengenggam erat sepatu milik Dion. Tunggu saja. Mmisteri kematian Firman akan segera terungkap besok.

    • Rettania says:

      Halo, terima kasih. Jawabannya sudah saya terima dan sudah ditampilkan di blog ya 🙂 (tadinya di-screen dulu, saya baru sempat approve)

    • Rettania says:

      Oh iya, kalau bisa, selama periode giveaway, twitter kamu di-unlock dulu, supaya kami bisa cek bahwa kamu sudah share mengenai info giveaway ini via twitter ata belum, sesuai rule no. 4.

      Thank you 🙂

  10. Dian Maya says:

    Nama: Dian Maya
    Twitter: @dianbookshelf
    Email: dianmayasariazis@gmail.com

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena novel ini mengangkat tema horor di sekolah yang dialami anak SMA. Horor selalu menjadi genre kesukaan saya, entah itu buku ataupun film. Di antara maraknya novel cinta-cintaan yang bermunculan di toko buku, Rahasia Lantai Empat membuat gebrakan baru yang unik. Suka sama ide penulis yang memeilih sekolah sebagai TKP. 🙂

    2. Tulisan singkat untuk gambar 2
    “Jam dinding menunjukkan pukul 21.19 ketika Randy mengakhiri sambungan telepon yang baru saja ia terima. Telpon dari Neil yang memintanya untuk ke rumahnya. Suara Neil aneh dan terasa tercekik ketakutan. Ia meminta Randy untuk menginap di rumahnya sekaligus menemaninya malam ini. Dipenuhi rasa penasaran, Randy pun bersiap-siap keluar rumah, mematikan TV ruang tengah dan mengambil kunci motor di meja kecil samping TV. Terburu-buru, ia berjalan ke rak sepatu mengambil keds kesayangannya dan alhasil sepatu sebelah kiri terjatuh. Saat berbalik mengambil sepatu yang terjatuh itulah Randy dikejutkan bayangan hitam mengerikan di terpantul di lantai depan dekat rak sepatu. Randy memasang sepatunya serampangan dan keluar rumah dengan kalut. Aku harus segera menemui Neil. Sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Pikirnya.”

    • Rettania says:

      Hai, terima kasih untuk jawabannya!

      Aku ingin konfirmasi, apa kamu menggunakan email yang berbeda untuk subscribe blog ini melalui email? Supaya bisa aku cek. Kalau belum, tombol subscribe ada di sidebar ya. Thank you!

        • Dian Maya says:

          Barusan saya masukkan (lagi) email di sidebar, jawabannya gini:
          “You have already subscribed to this site. Please check your inbox.”
          Artinya sudah berlangganan, Kak. 🙂

    • Rettania says:

      wah, aku jadi penasaran kira-kira ada apa dengan Neil, dan bayangan apa yang muncul di dekat sepatu Randy 😀

  11. Ibnu Wahyudinnur says:

    Nama : Ibnu Wahyudinnur
    Twitter : @wah_ibnu
    Email : wahibnu09@gmail.com

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena cerita di buku ini punya ciri khas tersendiri. Setelah sempat baca dari beberapa review ditambah mengenai proses pembuatan novel ini, saya yakin cerita dari buku ini cukup menarik untuk dibaca lebih lanjut. Proses kreatif penulis dalam membuat ide cerita bisa dibilang unik. Dimana penulis tak mempunyai ide cerita ia menggunakan ide cerita yang sudah cukup populer untuk dibuat kembali menjadi cerita dengan kreasi baru. Tidak semua penulis bisa membuat ide yang sudah lama untuk disulap menjadi ide baru lebih segar dan menarik minat banyak pembaca. Semoga di puncak Blog Tour ini menjadi kesempatan emas saya untuk bisa membaca buku ini.

    2. Tulisan singkat untuk gambar (02) :

    Arloji milik Risa sudah menunjukkan pukul 7 malam, suara adzan terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Ia terlihat gelisah di depan teras rumahnya dan tiba-tiba sebuah motor matic berhenti di depan rumahnya. “Lili!” sapanya.
    “Yuk buruan, udah kemaleman nih.” Ajaknya tergesa-gesa.
    Sebelum menaiki motor Lili, ia tak lupa pamit kepada kedua orang tuanya terlebih dahulu. “Berangkat!!” kata Risa. Lili langsung menstarter motornya lalu hilang di kegelapan malam.
    ***
    Sembari menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau, mereka sempatkan untuk mengobrol.
    “Sa, kenapa sih buku PR Matematika mesti ketinggalan dilaci tadi.” Kata Lili setengah berteriak maklum disaat malam begini banyak kendaraan dengan kebisingannya masing-masing.
    “Gak tau juga, Li. Mana guru Matematika kita galaknya minta ampun lagi.” Jawab Lili disertai tawa kecil.
    ***
    Setelah mendapatkan izin dari penjaga sekolah mereka langsung bergegas menuju kelasnya yang berada di lantai tiga . “Ini dapet bukunya, yuk pulang.” Kata Risa ngos-ngosan. Lili hanya mengangguk kecil tanda setuju.

    Saat menuruni anak tangga di lantai dua tanpa sengaja Lili tersandung, sepatunya terlempar tak jauh dari tempatnya berdiri. Ketika Risa hendak mengambil sepatu sebelah kiri milik Lili tanpa sengaja ia melihat keramik putih dan ia melihat sosok bermata merah menatap mereka secara tajam di lantai tiga.

  12. Afika Yulia Sari says:

    Nama : Afika Yulia Sari
    Twitter : @afikayulia
    Email : afikayuliaakb@gmail.com

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena dilihat dari covernya yang menarik. Lalu setelah membaca review dari beberapa blogtour kemarin-kemarin aku penasaran bagaimana jalan ceritanya. Cerita dengan settingan disekolah yang dikupas dengan cara yang berbeda dari cerita horor disekolah pada umumnya. Disisi lain, novel ini juga menceritakan persahabatan. Aku ingin sekali membaca novel ini. Semoga kali ini beruntung 🙂

    2. Tulisan singkat untuk gambar 01

    Sejak pertengkaranku dengan Dimas tadi siang, membuat bebanku sebagai ketua pelaksana semakin berat. Rencananya untuk tiga hari kedepan sekolahku mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan Osis. Agar tidak mengeluarkan banyak biaya, panitia sepakat LDK diadakan disekolah sesuai dengan hasil rapat. Pernyataan Dimas untuk memutuskan hubungan ini adalah keputusan yang aneh. Pasalnya sudah 3 bulan Aku dan Dimas menjalin hubungan dengan keadaan baik-baik saja.
    ” Bisa kita bicara sebentar? ” pinta Dimas. ” Aku tau ini bukan saat yang tepat, tapi aku tidak mau berlarut-larut menyimpan keputusan ini ” lanjut Dimas.
    ” Sayang, maksud kamu apa sih? Keputusan apa? Aku enggak ngerti ” kataku
    ” Aku mau kita putus ”
    ” Putus? Kenapa? Apa aku punya salah sama kamu? ”
    Dimas membalikkan badannya lalu pergi.
    ” Hey pengecut ” teriak Nely
    Dimas menghentikan langkah kakinya. Wajahnya menoleh dengan tatapan sinis. Tidak seperti biasanya Dimas memperlihatkan perilaku seperti itu. Ya, ini benar-benar aneh.
    Kepalaku semakin pusing memikirkan Dimas. ” Apa yang sebenarnya terjadi padanya? ” batinku bertanya-tanya.
    Waktu telah menunjukkan pukul 23.00 namun mata ini seolah sulit terpejam. Membolak-balikkan badan dengan rasa kegelisahan yang besar. Aku memutuskan keluar kelas untuk sekedar mencari udara. Suasana sekolah terlihat sangat berbeda ketika dimalam hari. Hanya lampu penerangan dilapangan yang menyala. Gesekkan ranting pohon membuat bulu kudukku semakin merinding. Ditambah pula udara dingin yang menusuk kedalam tulang. Aku memperhatikan sudut-sudut sekolah sekali lagi. Oh astaga !! Apa itu?. Kepulan kabut hitam muncul dibawah lampu penerangan. Apa yang terjadi? Ada sosok bayangan hitam tapi siapa dia? Jangan-jangan salah satu anggota LDK. Mau apa berkeliaran malam-malam seperti ini?
    ” Hey, siapa disana ” teriakku
    Bayangan hitam itu terus berjalan seakan tak peduli dengan teriakkanku. Rasa penasaranku semakin mencuat. Tanpa pikir panjang, aku bergegas membuntutinya dari belakang. Bayangan hitam itu semakin jelas. Dilihat dari postur tubuhnya, seperti tak asing lagi. Ya, Dimas.
    ” Mau apa dia kelantai atas? Mencurigakan sekali ” pikirku dalam hati
    Ada dua kemungkinan, ia akan ke Mushola atau ke Perpustakaan. Aku lebih memilih bersembunyi dibalik tembok. Menunggu sampai Dimas kembali kebawah. Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang. Bau anyir menusuk hidungku. Apa lagi ini? Sosok Dimas sudah tidak kelihatan dari tangga, namun sosok baru muncul dibawah tangga. Rambutnya panjang. Sekujur tubuhnya berlumuran darah. Oh ya ampun, Shinta. ” Mengapa ia berpakaian seperti itu? Bukankah jerit malam dilakukan malam kedua masa LDK? ” batinku terus mengoceh
    Aku tidak mengerti. Sepertinya ada sesuatu yang tidak kuketahui sebelumnya. Baru kali aku menemukan kejadian mistis disekolah. Dimas kembali dari lantai atas dengan membawa sebuah buku. Aku terkejut, ketika melihat penampilan Dimas yang berbeda. Wajahnya penuh dengan luka sayatan. Pakaiannya juga berlumuran darah. Aku tidak dapat memungkiri bahwa aku benar-benar ketakutan.
    ” Waktu kita sudah habis. Kita harus kembali. Apa kau sudah siap? ” tanya Shinta pada Dimas
    Dimas hanya mengangguk. Dibukanya buku yang Dimas pegang. Siapa sangka? Mereka masuk kedalam buku. Jadi selama tiga bulan ini aku memiliki kekasih dan teman seorang hantu. Aku mengerti sekarang, mengapa Dimas memutuskan hubungannya denganku. Karena sesungguhnya ia ingin pamit dan kembali ke tempat asalnya. Sulit dipercaya memang, tapi inilah faktanya.

    • Rettania says:

      konsepnya menarik, jadi ingin tahu kalau mereka berasal dari buku, apa tujuan mereka datang ke dunia ini dan berteman sama si tokoh ‘Aku’ ini, apalagi sampai pacaran 😀

  13. Dias Shinta Devi says:

    Nama : Dias Shinta Devi
    Twitter : @DiasShinta
    Email : diasshinta.iyas@gmail.com

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena …aku udah pernah baca buku Apartemen Berhantu yang sama-sama diterbitkan oleh Bukune. Aku pengin tau perkembangan Kak Rettania dalam karya kepenulisannya. Pengin nyicipin juga apakah karya yang kali ini lebih bikin merinding dibanding buku Apartemen Berhantu yang tippiiiiiiissss banget itu wkwk (ampun kak >_<).
    Sebenernya secara kebetulan adik aku emang suka cerita horror, so mudah-mudahan aja buku ini bisa jadi hadiah THR dia karena dia suka sama novel Apartemen Berhantu kemarin. :*
    3. Tulisan singkat untuk gambar no. 01.
    "Kreek.. Kreek… Kreek.."
    Seketika langkahku terhenti di depan tangga menuju lantai keempat. Sku sempat menoleh ke atas dan mendapati bayangan samar seseorang berjubah putih tengah berlari. Seketika aku bergidik ngeri. Namun penasaran, aku mencoba menyusulnya. Tak disangka, di pertengahan tangga…
    "Neng, anak baru ya? Sudah tidak ada ruang kelas lagi di atas. Bangunan sekolah ini hanya sampai di Lantai Ketiga." teriak salah satu tukang sapu di sekolah ini dari lantai tiga membuat badanku berputar 180 derajat menengok ke bawah.
    "I..iya.. Tapi tadi ada yang di atas, Pak!"
    "Oh, Neng pasti salah lihat…"
    "Nggak mungkin, Pak!" kataku bersikeras
    "Neng pasti salah lihat! Sudah sana lebih baik kembali ke kelas! Daripada ke lantai atas dan takkan pernah kembali.." kulihat tangannya refleks menutupi mulutnya. Aku yakin dia kelepasan bicara.
    "Kenapa tak kembali, Pak? Ada apa sebenarnya dengan Lantai Keempat bangunan ini? Kenapa nama sekolahnya aneh sekali…"
    "Pokoknya Neng gak boleh ke atas. Apalagi tengah malam!"
    Setelah mengucapkan kalimat itu, ia pergi meninggalkanku.

    Sekolah ini, SMP Wengi namanya. Sejak awal kurasakan atmosfer ganjil menyelimuti. Entah apa yang terjadi dengan bangunan sekolah itu dalam ukiran sejarahnya meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi.
    Hal yang terus menerus menggema di kepalaku mengenai tempat ini adalah keanehan jumlah lantainya. Setiap orang yang melintasi bangunan ini dari luar pasti mengira terdapat empat lantai. Namun pihak sekolah menampik hal itu dan mengatakan hanya ada TIGA.
    Semakin dikatakan "TIDAK", rasa penasaranku semakin membumbung tinggi. Dan akhirnya, kenekatanku menggiring langkah kaki ini untuk menjelajahi lantai keempat itu tepat tengah malam ini, malam Jum'at….

    • Rettania says:

      Menarik, cuma aku agak bingung sama settingnya. Dia ketemu tukang sapu itu siang atau malam ya? kalau malam, kok disuruh balik ke kelas? Hehehe… tp nama sekolahnya aku suka, mistis gitu SMP Wengi XD

  14. thiamelia says:

    Nama: Thia Amelia
    Twitter: @Thia1498
    Email: thia.amelia18@yahoo.co.id
    Link share: https://twitter.com/Thia1498/status/618432195712061440

    1. Mengapa kamu tertarik untuk membaca buku RAHASIA LANTAI KEEMPAT?

    Pertama karena melihat review nya disalah satu blog yang aku kunjungi. Aku ini ga terlalu suka baca cerita horor, tapi karena penasaran akhirnya aku membuka review nya. ternyata eh ternyata dalam cerita horor ini terselip sebuah cerita cinta segi empat antara para cast nya, dan aku suka itu, walaupun saya tau pasti horor lebih kuat dalam temanya ketimbang romance. Yang kedua karena, aku suka sekali sebuah novel yang latar belakang nya sekolah, apalagi sebagai pembaca saya sangat suka dengan perpustakaan, dan salah satu latar belakang dari novel ini pun perpustakaan, apalagi dari semua review yg saya baca, perpustakaan adalah tempat asal muasal bagaimana ‘Lantai keempat’ itu ditemukan. Selanjutnya karena ini menceritakan tentang persahabatan. Bagaimana cara mereka menjalin sebuah persahabatan tanpa ada rasa iri dengki, bagaimana mereka mencari jalan keluar dari lantai keempat dengan menguatkan rasa persahabatan mereka, saya sangat suka. Karena itu saya sangat tertarik untuk membaca buku RAHASIA LANTAI KEEMPAT ini.

    2. Tulisan singkat untuk gambar 02

    Sedari dulu aku sangat suka dengan kisah Cinderella, bagaimana seorang pangeran kaya mencoba mencari pasangan hidupnya hanya bermodalkan sebuah sepatu sebelah kanan. Tapi, bagaikan dongeng, saat ini aku menemukan sebuah sepatu sebelah kiri yang tergeletak begitu saja di koridor sekolah. Aku menengok ke kanan dan ke kiri mencoba mencari seseorang yang meninggalkan sepatunya begitu saja, tapi suasana sekolah saat ini sedang sepi hanya ada aku dan kegelapan yang mencekam, tidak terlalu gelap, hanya saja cahaya nya sangat redup untuk ukuran sekolah yang besar. Aku hanya mengangkat kedua bahuku bingung bagaimana bisa sepatu itu ada disana. Dan seperti sang pangeran, akhirnya aku mengambil sepatu itu mencoba mencari pasangan nya yang lain. Tapi ini aneh, ketika sekolah sepi seperti ini aku tidak pernah merasa seperti ini. Tengkuk yang meremang, tangan yang mulai merasa dingin dan perasaan seperti diperhatikan dari belakang. Dan aku rasa itu bukan sang putri yang sedang mencari sepatunya, karena hawa ini, aku merasa bahwa hawa ini berbeda. Dingin yang mencekam, dingin yang menakutkan. Aku ingat perkataan teman ku tempo hari, ‘Jika kau berada dikeadaan dimana kau ketakutan dan merasa ada yang mengikutimu, jangan menengok ke belakang.’ Aku percepat langkahku, ketika hawa dingin itu semakin menyeruak tidak hanya pada tanganku tapi pada seluruh tubuhku, sedang tangan kanan ku menggenggam erat sepatu yang aku temukan tadi. Ketika selangkah lagi akan mencapai pintu keluar sekolah, aku merasakan tangan dingin yang memegang pundakku. Sontak aku terdiam, perkataan ‘Jangan menengok ke belakang’ terus berkelebat diingatanku.

    “Se..pa..tu..ku..” Suara itu, begitu lirih seakan sedang merasa kesakitan yang teramat sangat. Perlahan, aku menengok kebelakang, melihat tangan yang kurus seperti hanya tulang yang berbalut kulit yang sedang memegang pundakku, melihat lengannya yang pucat pasi, baju sekolahnya yang kotor, dan wajahnya yang….

    “AAAA!!!”

  15. Hikari Mio says:

    Nama : Rina Eko Wati
    Twitter : @HikariMio
    Email : rinaeko87@gmail.com

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena novel ini bergenre Horror. Akhir-akhir ini saya memang menyukai genre horror, terlebih untuk terapi diri dari hal-hal diluar nalar. Genre horror juga menyajikan alur yang lebih menukik tajam dan mampu menimbulkan adrenalin terpacu, walaupun memang tidak semua novel horror yang saya baca menyeramkan. Sebaliknya, sebagian ceritanya nggak ada seram-seramnya sama sekali. Jadi saya merasa tertantang untuk membaca buku Rahasia Lantai Keempat, karena saya ingin merasakan bagaimana sensasi merinding yang bener-bener bikin bulu kuduk berdiri semua. Saya juga pengen lebih tahu apakah cerita horror remaja akan semenegangkan seperti cerita horror-horror lainnya. Pasti akan banyak sekali kejadian tak terduga yang menguras emosi serta pikiran, membuat para pembaca menduga-duga bagaimana ending/akhir cerita. Dan tentunya setiap kata yang ada dalam novel, selalu mengacu pada suatu titik terang atau puzzle-puzzle yang harus dipecahkan oleh pembaca. Tidak ada ujungnya, rumit tapi mengasyikkan untuk ditelusuri.

    2. Tulisan singkat untuk gambar 01

    Kutatap tangga itu sekali lagi. Gelap dan terkesan misterius. Sesaat hawa dingin menyergap dan membuat tengkukku merinding hebat. Rasa-rasanya ingin sekali pergi dari sini saja dan melupakan petualangan yang ingin kujalankan. Tapi tidak bisa, aku harus menaklukkannya. Aku menelan ludah, lalu mulai menaiki tangga pertama dengan kaki gemetar. Aku terus menaiki tangga tersebut tanpa menoleh ke belakang, takut jika saat aku memutuskan untuk menengok, aku melihat hantu itu. Hantu penghuni tempat ini.

    Baru beberapa langkah menaiki tangga, aku membeku dalam posisi berdiri. Rasa takut mendorongku untuk diam di tempat. Jujur aku takut. Tapi rasa takutku mengalahkan rasa penasaran dalam diriku. Perlahan aku membalikkan badan sambil menelan ludah dengan susah payah. Aku terkesiap, aku membekap mulutku sendiri dan menahan napas. Takut akan mengeluarkan suara. Kulihat sekelebat gadis memakai seragam sekolah melintas di bawah tangga dengan rambut panjang tergerai menutupi wajahnya

  16. Nadia Ashari says:

    Nama : Nadia Puspaningtyas Ashari
    Twitter : @nadia48nafla
    Email : nadia.puspaningtyas@yahoo.com

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena covernya mirip tangga di tempat kuliah dan disana lantainya juga ada 4 lantai jd kebetulan banget hehe dan aku suka covernya.
    Karena selama ini cm baca novel yg bergenre romance, teenlit dan yg itu-itu aja. Aku pingin cm baca novel yg bergenre horror remaja untuk pertama kalinya, sekalian nguji, soalnya aku tipe orang penakut sm sesuatu hal yg horror.
    Selain itu, penasaran ada apa dengan lantai keempat? sm awal mulanya.

    2. Tulisan singkat untuk gambar 02 (flash fiction)

    Jam pulang sekolah sudah selesai 3 jam yang lalu. ‘Tik tok tik tok’, jam pun berbunyi menyelimuti suasana perpustakaan yg tenang dan sunyi. Hanya ada aku dan penjaga perpustakaan yang masih betah berada di sana.

    “Mbak sudah jam 19.00 malam, perpustakaan mau ditutup” kata penjaga perpustakaan didekat ku, sontak akupun kaget karenanya.

    “Oh, ya. Makasih” akupun segera membereskan tugas-tugas ku dan mengambil tas di loker lalu pergi keluar perpustakaan. Karena Ruang Perpustakaan berada pojokan di lantai empat akupun harus melewati lorong yang panjang untuk sampai ke tangga.

    Saat berjalan melewati lorong yang panjang, entah karena apa tiba-tiba “…………..” hawa disekitar menjadi dingin dan aku merasa sesuatu yang aneh. Sampai di depan sebuah ruang yang aku anggap itu kelas, aku merasa menginjak sesuatu di bawah.

    “Apa ini?“

    “Sepatu? Punya siapa ya?” aku pun mengambil sepatu itu.

    ‘Aneh, kok ada sepatu disini?’ batinku bertanya.

    “Hiks…..Hilang….”

    “Eh? Suara apa itu?” aku melihat ke sekelilingku.

    “………..” tiba-tiba bulu kudukku merinding dan hawa sekitar menjadi terasa berat

    DEGH

    “ad…ada apa ini?” aku merasa tubuhku lemas dan berat

    “Hiks…..Sepatu….”

    “Suara itu lagi?” aku menoleh kesamping kiri tepat searah dengan pintu kelas itu dan melihat seorang perempuan berdiri tak jauh dariku. Ia memakai baju seragam sekolah serta berambut hitam panjang, di tangan kirinya ada satu buah sepatu sedangkan tangan kanannya ia julurkan kepadaku seakan meminta sesuatu sambil menundukkan kepala.

    “Maaf, siapa ya? Kok belum pulang?”

    “……….” hening, perempuan itu diam tak menjawab. Entah mengapa aku jadi ingat sebuah isu tentang sepatu horror di salah satu lorong sekolah. Akupun tersentak dan sadar bahwa aku ada di lorong tersebut. Seluruh anggota badanku gemetar dan sepatu yang aku bawapun jatuh tergeletak.

    “Mana……sepatuku….?” dia berkata dan mengangkat kepalanya.

    “………..” aku hanya bisa membuka mulut ketakutan tanpa bisa mengeluarkan suara. Sontak aku berlari ketakutan menuju tangga dengan cepat.
    Meninggalkan Si Gadis dan sepatu horror.

  17. Agnes Budianto says:

    Nama: Agnes Budianto
    Twitter: @agnesb0702
    Email: prettyrhythm86@yahoo.com

    1. Saya tertarik membaca buku Rahasia Lantai Keempat karena saat membaca review salah seorang blog host blogtour buku ini, ada yang menuliskan “lantai tambahan” sehingga membuat saya penasaran dengan cerita ini. Dengan cover yang membuat saya sedikit bergidik, saya merasa saya benar-benar harus membaca buku ini. Saya juga menyukai cerita bertema horror, thriller, dan mystery.

    2. Gambar 1

    Deg.. deg… deg..

    Aku berlari dengan kencang menuju tangga, tidak menghiraukan suara seorang wanita yang memanggilku sejak tadi.

    “Dit, tunggu.” Begitulah suara yang terus dikeluarkan oleh wanita yang mengikutiku sejak aku masuk ke dalam rumahku.

    Begitu aku sampai di anak tangga ke-3, wanita tersebut sudah berada di samping tangga, mencoba untuk mengikutiku. Tapi kali ini dia tidak berkata apapun.

    Aku menghiraukannya, dan tetap menaiki tangga, llau aku mendengar wanita tersebut mengatakan, “Kamu sangat durhaka kepada kakakmu sendiri,Dit.” Lalu, tepat di depanku, ada sebuah portal hitam dan aku tersedot masuk ke dalam lubang hitam itu. Gelap dan gelap.

    Begitu aku bangun, aku tidak tahu dimana aku sedang berada sekarang.

  18. Anandanftrn says:

    Ananda Nur Fitriani
    @anandanf07
    Anandanftrn@gmail.com

    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena saya pecinta genre horror. Saya paling suka dengan semua hal yang berbau misteri. Dari judul dan cover, buku ini sudah menunjukan sisi misterius nya. Ditambah lagi dengan preview yang ditulis oleh mbak rettania, walaupun hanya sekilas cerita, tapi saya suka dengan cara menulis mbak rettania, ceritanya membuat saya penasaran dan menahan nafas saat membacanya. Buku ini menggunakan sekolah sebagai latar tempatnya. Lalu memadukan unsur persahabatan dan cinta segiempat, itulah daya tarik buku ini. Saya juga ingin mencicipi karya mbak rettania, karena saya belum membaca Apartemen Berhantu, hehe

    2. Tulisan singkat untuk gambar 02

    Malam sudah larut, ketika ada seorang anak berlari di koridor lantai empat sekolahnya. Dia berlari tergesa-gesa, seolah dia sedang dikejar makhluk mengerikan.

    Hosh.. Hosh..

    Dia kesana kemari, berkeliling untuk mencari tangga menuju lantai tiga. Nihil, dia tidak menemukan jalan keluar. Dia belum hafal isi bangunan sekolahnya yang luas itu. Namun dia tidak menyerah, dia terus berlari. Mungkin dia pikir, lebih baik mati kelelahan daripada mati ditangan makhluk itu. Dalam kegelisahannya, dia menelepon seseorang.

    Nomor yang anda tuju, sedang berada diluar jangkauan..

    Dia langsung mematikan sambungan dengan kesal. Dia sudah lelah, dia ingin berhenti. Namun dia langsung menepis pikiran itu ketika ada sekelebat bayangan di depannya. Dia mematung, ragu untuk melanjutkan langkahnya. Saat dia ingin membalikan badan, dia merasakan hawa dingin dibelakangnya. Tiupan angin yang terasa janggal.

    Hana..

    Ada yang memanggilnya. Suaranya lirih, bahkan lebih mirip bisikan. Bulu kuduknya meremang. Dia tidak berani menoleh. Dia pun memutuskan untuk melangkah perlahan. Namun..

    Tes. Tes. Tes.

    Sesuatu berwarna merah menetes. Darah. Dia memberanikan diri untuk melihat ke atas. Seketika nafasnya tercekat. Makhluk itu. Dia memakai baju berwarna putih. Rambutnya panjang. Wajahnya hancur. Terdapat banyak luka sayatan. Dan matanya, oh tidak, matanya bolong! Lebih tepatnya, dia tidak memiliki mata! Lubang hitam di matanya seakan dapat menghisap siapapun yang melihat. Dia menyeringai, dan darah itu menetes lagi. Hana pun langsung merasa mual, dia segera berlari. Namun terlambat, mahkluk itu mencengkram kakinya. “AAAAAAA!” Hana berteriak. Makhluk itu menarik kaki Hana ke arah tangga. “TOLONG! Seseorang, tolong aku!”

    Dug.

    Hana jatuh, badannya terguling sampai bawah tangga. Darah keluar dari kepalanya. Sepatu sebelah kiri Hana terlepas.

    •••

    “Hana, kamu dimana? Jawab aku!”

    Dia sedang mencari Hana, temannya. Dia sudah berkeliling di lantai 3, dia ragu untuk mencari ke lantai 4.
    “Hana! Kamu gak ngerjain aku kan? Kenapa kamu nelepon aku malam-malam begini?”

    Dia bertanya dengan gelisah. Lagi-lagi, tidak ada jawaban. Lalu dia melihat sebuah sepatu. Itu sepatu hana, pikirnya. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Namun dia tidak menemukan apapun. Sepatu itu tepat berada di bawah tangga menuju lantai 4. Ubin lantai 3 sangatlah bersih. Saking bersihnya, saat dia mau mengambil sepatu itu, dia dapat melihat pantulan bayangan di ubin. Ada sepasang mata merah mengerikan yang sedang memperhatikannya. Lalu dia mengangkat kepalanya, dan.. “AAAAAA!”

  19. Arini Angger says:

    Nama: Arini Angger
    Twitter: @ariniangger
    Email: ariniangger@gmail.com
    1. Saya tertarik untuk membaca Rahasia Lantai Keempat karena banyak mengandung inspirasi fiktif yang membuat saya tercengang walau baru membaca sedikit di blog mba retta, lagi pula horor juga bukan berarti penjelekkan publik semata dengan adanya horor belaka yang di karang oleh anak jaman sekarang. Horor yang ini sepertinya banyak menginspirasi, walau tulisannya mungkin dinilai banyak pihak dengan begitu saja apalagi dengan latarnya sekolah. Justru ini yang membuat saya tertarik dan sungguh ingin membacanya.
    2. Tulisan singkat untuk gambar (01/02)
    Gambar 01. Dari sebuah lekukan tangga sekolah, aku bisa merasakan bagaimana degap- degup jantungku yang kini tak tertahan lagi. Mulai ku tapaki kaki ku di anak tangga pertama, kedua, dan seterusnya. Hingga aku merasakan bulu kudukku merinding seketika ketika melihat suasana gelap yang tergambar disekelilingku. Aku hanya murid SMA yang tak banyak berpengalaman soal hantu, apalagi sangat konyol jika aku mati berdiri disekolah terguling- guling kebawah dengan alasan di takuti hantu tangga
    Gambar 02. Warna sudah usang, ya teman hidupnya begitu kata orang. Aku tak percaya mengapa sepatu itu begitu sakral adanya dekat tangga sekolahku, aku juga tak berprasangka buruk jika aku harus melihatnya begitu menaiki anak tangga. Sosok sepatu itu… sungguh usang, aromanya pun tak sedap, layaknya yang harus dibuang. Tapi kali ini saat aku menongok sepatu itu yang berada dipelataran sekolah, tak tahu siapa yang menaruhnya, tiba- tiba saja aku me…. melihat sesosok mata yang menatap ku dari balik bayangan sepatu usang itu.

Leave a Reply