Rahasia Lantai Keempat – Blog Tour & Preview

Malam Jumat nanti, blog tour #RahasiaLantaiKeempat akan dimulai. Tiga orang blogger penggemar buku telah membaca dan siap membedah novel terbaruku: Rahasia Lantai Keempat. Aku sendiri sangat deg-degan menantikannya!

Blog tour ini akan berjalan selama satu bulan. Setiap minggunya, seorang host akan memposting review-nya tentang Rahasia Lantai Keempat, lalu mengadakan giveaway dengan hadiah yang akan dikirimkan langsung dari saya. Jadi, kamu wajib ikutan, ya! ^___^

Supaya nggak ketinggalan, ini jadwal blog tour-nya:

blogtour

 

Nah, supaya kamu lebih semangat untuk ikutan blog tour + giveaway ini, aku akan kasih preview dari buku Rahasia Lantai Keempat ini.


– Prolog –

Perpustakaan sekolah bukan tempat favorit kebanyakan siswa pada jam istirahat pertama. Tapi, bagi Fara yang kutu buku dan Nikki yang tergabung dalam klub Mading dan harus selalu mencari topik ataupun bahan tulisan, perpustakaan menjadi tempat nongkrong mereka.

Bangunan perpustakaan ini terletak di belakang, berdiri terpisah dari bangunan utama dan bangunan sayap. Langit-langit tinggi yang khas bangunan bergaya kolonial membuat ruang perpustakaan terasa sejuk, meski sedikit remang. Deretan rak buku yang terbuat dari kayu berjajar rapi. Bau kertas usang bercampur debu selalu tercium ketika mereka mendekat ke salah satu rak untuk mencari-cari buku.

Mata Nikki tidak bisa fokus dengan laptop dan buku catatannya. Tangannya menyibakkan rambut ikal sebahu yang jatuh ke depan wajahnya. Matanya terus melirik gelang keperakan dengan aksen batu Swarovski berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangan sahabatnya, Fara.

“Baru, ya?” tanya Nikki tanpa menyebut secara spesifik benda apa yang ditanyakannya.

Gadis manis dengan rambut bob yang duduk di seberangnya mendongak dari buku teks yang sedang dibacanya, lalu mengangkat tangan kirinya dengan senang. “Ini? Iya, hadiah dari Neil. Kemarin kan enam bulanan.”

“Hmmm,” Nikki menggumam, mengembalikan artikel yang sejak tadi hanya dibacanya, walau gagal total untuk konsentrasi.

Enam bulanan. Neil. Gelang cantik.

Nikki melirik pergelangan tangannya yang minim perhiasan. Jam tangan saja dia tidak pernah pakai.

Fara punya semuanya.

Krincing…

Samar-samar, terdengar bunyi gemerincing, Nikki mengangkat alisnya dan membantin. Seperti bunyi gelang. Sekolah ini memang mengijinkan siswinya mengenakan aksesoris, tapi kalau sampai berbunyi seperti itu sih, sudah pasti kebanyakan.

“Kenapa, Ki?” Fara bertanya ketika Nikki hanya terdiam.

Gadis itu menggelengkan kepalanya dan mencoba tersenyum. “Nggak. Gelangnya bagus. Enak, ya, punya pacar.”

Nikki setengah berharap Fara akan mendengar nada menyindir dalam kalimatnya. Tapi, senyuman di wajah gadis itu tetap melekat, meski sedikit kaku. Kalaupun Fara menyadarinya, dia tidak bilang apa-apa. Dia memang selalu seperti itu.

Padahal, mereka sama-sama tahu.

Srak.

“Apa tuh?” Nikki menoleh ke arah suara. Di rak buku yang dekat dengan tempat duduk mereka, sebuah buku terjatuh ke lantai. Tapi, tidak ada orang di sekitar situ.

“Pasti ada orang lewat terus nyenggol, deh,” gumam Fara sambil beranjak dari kursinya.

Dari sudut matanya, Nikki bisa melihat Fara yang bergerak menuju rak kayu di sisi kanan meja mereka. Kebetulan, meja favorit mereka ini memang terletak di bagian perpustakaan yang agak dalam. Tidak berisik, karena agak jarang dilewati orang.

Dilihatnya, Fara membungkuk untuk mengambil buku itu, kemudian terdiam. Lalu, sahabatnya itu malah berjongkok, seperti memerhatikan sesuatu.

“Kenapa Far?” panggil Nikki pelan, tidak ingin disemprot oleh penjaga perpus yang super galak ketika ada siswa bicara dengan volume di atas level yang bisa ditolerir olehnya.

Untuk beberapa detik pertama, Fara tidak menjawab. Seperti memandang lurus pada buku yang terjatuh itu.

Ia melihat temannya itu membolak-balikan buku tersebut, membuka-buka halamannya, lalu, “Ki, Ki, Ki, sini deh.”

Nada antusias bercampur dengan rasa penasaran itu langka terdengar dari Fara. Segera, Nikki melangkahkan kakinya lebih jauh ke dalam lorong di antara rak-rak buku dari kayu, mendekati Fara yang masih berjongkok.

Nikki ikut berjongkok, melongokkan kepalanya dari balik punggung Fara dan mendapati halaman kosong yang sedang diamati oleh sahabatnya itu.

Ah, bukan halaman kosong. Tulisan tangan dengan huruf sambung menempati sebagian halaman usang tersebut. Catatan kecil yang ditulis dengan terburu-buru, dilihat dari kemiringan baris-barisnya. Di atas deretan kata tersebut, tertulis: Lantai 4.

Otak Nikki langsung memutar ingatan mengenai salah satu urban legend yang cukup dikenal di sekolahnya. Tentang adanya lantai keempat di bangunan berlantai tiga ini. Insting penulis Nikki langsung tertarik. Seperti ada dorongan kuat untuk melihat catatan tangan itu lebih jauh.

Nikki berjongkok di samping Fara. Matanya bergerak mengikuti tulisan tangan di sudut halaman kosong itu. Punggung Nikki serasa ditiup angin dingin, membuat bulu-bulu halus di sana berdiri. Nikki menengok ke belakang dan mendapati lorong yang kosong dan hening. Ketika mengalihkan pandangannya ke atas, Nikki mendapati AC yang berada persis di dinding depan mereka.

Oh, cuma AC, batin Nikki.

Tapi, hal itu tidak menjelaskan perasaan sedang diawasi dengan pandangan yang tajam dan menusuk tengkuknya.

* * *


Ini hanyalah prolog. Cerita lengkapnya tentu lebih seru. Kamu tidak hanya akan mendapatkan kisah seram, tapi juga arti dari persahabatan. 😉

 

Suatu tempat menjadi hidup karena emosi-emosi manusia yang berada di dalamnya. Jika terlalu banyak emosi negatif yang berkembang, maka waspadalah…

 

9 comments

  1. Ani Purditasari says:

    Buku Lantai Ke Empat-nya bertema persahabatan juga ya, Mbak? Jadi ga cuma serem-serem merinding ajah… Kren nih kayaknya, jadi penasaran…

    Semoga blogtour-nya berjalan lancar ya, Mbak. Pengen ikutan juga, hehee

    • Rettania says:

      Halo, Ani 🙂

      Iya, ketika menulis cerita horor, aku selalu memasukkan unsur lain. Seperti dalam buku Apartemen Berhantu, aku memasukkan tema keluarga, tepatnya hubungan ibu dan anak. Dalam Rahasia Lantai Keempat, ada nilai-nilai persahabatan yang ingin aku sampaikan melalui tokoh-tokohku yang terjebak dalam situasi tertentu. Harapanku, novelku bisa memberi lebih dari sekedar cerita misteri/seram 🙂

      Kalau penasaran, simak blog tour-nya dan ikut giveaway-nya ya! Bisa saja kamu beruntung dan mendapatkan hadiahnya 😀

      Terima kasih sudah berkunjung ya ^^

  2. Ani Purditasari says:

    Wah, keren ya, Mbak.
    Jarang-jarang penulis novel horor yang nge-mix ceritanya dgn genre lain, paling ada juga di mix dengan genre romance ajah.

    Kebanyakan cerita horor ga ada pesan moralnya, Mbak. Cuma serem doang. Berarti novel Lantai ke Empat ini istimewa ya, ada pesan moralnya juga 🙂

    Oksip, Mbak. Tertarik juga ikutan, semoga beruntung dah, hehee

    Terimakasih kembali, Mbak. Terimakasih juga untuk responnya. 🙂

  3. Agatha Vonilia says:

    Wahhhhh … Haloooo kakak.
    Novelnya seru dan benar-benar memacu Adrenaline Kak! Bahasanya aku juga suka Kak sehingga bacanya ngalir gitu aja Kak. Makasihhh Kak atas novelnya.

  4. Anandanftrn says:

    Wah, keren (>_<) baru sempet baca preview nya sekarang, unsur horror nya kerasa banget kak, padahal cuma sekilas adegan doang :3 langsung ikutan puncak blogtour nya ah 😀

Leave a Reply