Misteri Patung Garam, Sebuah Kisah Detektif Lokal

“Dia sangat sadis. Dan, dia masih berkeliaran.” 

Dari dulu, saya menyenangi cerita detektif. Tapi, saya lebih sering menonton atau membaca komik Conan, Kindaichi, dsb. Jujur saja, baru kali ini saya membaca kisah detektif lokal. Dan sungguh, MISTERI PATUNG GARAM, dengan tokoh utamanya, KIRI LAMARI, bisa bersaing dengan kisah-kisah detektif dari luar.

Informasi Buku

Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: Gagas Media (2015)
Tebal: 284 hal
Genre: Mystery
ISBN: 979780786X
Blurb:

Seorang pianis ditemukan mati,
terduduk di depan pianonya, dengan bibir terjahit.
Bola matanya dirusak, meninggalkan lubang hitam yang amat mengerikan.
Rambut palsu merah panjang menutupi kepalanya.
Sementara, otak dan organ-organ tubuhnya telah dikeluarkan secara paksa.

Kulitnya memucat seputih garam.
Bukan, bukan seputih garam.
Tapi, seluruh tubuh sang pianis itu benar-benar dilumuri adonan garam.

Kiri Lamari, penyidik kasus ini,
terus-menerus dihantui lubang hitam mata sang pianis.
Mata yang seakan meminta pertolongan sambil terus bertanya,
kenapa aku mati?
Mata yang mengingatkan Kiri Lamari akan mata ibunya.
Yang juga ia temukan tak bernyawa puluhan tahun lalu.

Garam? Kenapa garam?

Kiri Lamari belum menemukan jawabannya.
Sementara mayat tanpa organ yang dilumuri garam telah ditemukan kembali…..

Plot

Kiri Lamari, seorang detektif polisi yang baru saja dipromosikan untuk ditempatkan di Surabaya, sudah harus menghadapi kasus pembunuhan sadis. Korbannya dibuat seperti patung garam, dan belakangan diketahui bahwa organ dalamnya pun sudah dikeluarkan–termasuk otak!

Kepolisian tidak ingin kasus ini terkuak ke publik. Bersama dengan atasannya, Inspektur Saut, Kiri berlomba dengan kecepatan media mengendus kasus ini, untuk segera menangkap pelakunya. Tapi, si pelaku lebih cepat. Korban kedua memunculkan sebuah nama yang kemungkinan terkait dengan kasus ini. Rahardian, seorang seniman yang gemar membuat patung garam. Meski keduanya yakin Rahardian terkait dengan kasus ini, mereka tidak punya cukup bukti.

Belum hilang pening Kiri karena kasus ini, dia masih harus berurusan dengan Ireng, anak jalanan yang dipergokinya mencopet di hari pertama ia menginjakkan kaki di Surabaya. Entah bagaimana, bocah itu pelan-pelan masuk ke kehidupannya–dan Kiri mengijinkannya. Ia bisa melihat dirinya sendiri pada Ireng. Anak yang cerdas walau agak tidak punya aturan.

Lalu, Kenes, pacarnya  yang seorang travel photographer juga pindah ke Surabaya. Membantu Kiri sekaligus menambah penat kepalanya perkara cinta. Kenes membutuhkan kepastian hubungan mereka yang tersendat di tempat karena keengganan Kiri untuk berdamai dengan masa lalunya.

Penulisan dan Penokohan

Penulisan dengan sudut pandang orang ketiga membawa pembaca untuk bisa mengetahui berbagai sisi dan kejadian dalam cerita ini. Penggambaran Pria Lavendel yang misterius, ketakutan ketiga korban, hingga alam pikiran Kiri bias diselami dengan baik.

Kiri adalah individu yang menarik sebagai tokoh utama. Dia tidak hanya digambarkan sebagai detektif muda dan cerdas yang terobsesi dengan kasus, tetapi juga sebagai pria yang perhatian–terlihat dari caranya memperlakukan Ireng sejak awal bertemu, dan bagaimana Kiri selalu berusaha menjaga hubungannya dengan Kenes. Tambahan lagi, dia bisa masak!

Kenes adalah tipe karakter wanita pendamping yang saya sukai dalam sebuah cerita. Mandiri, kuat, dan cukup punya inisiatif untuk bertindak. Kenes memang cocok bagi Kiri yang sering terlalu fokus pada pekerjaannya, sehingga seringkali, Kenes lah yang ‘memimpin’ dalam hubungan mereka. Dinamika seperti ini menurut saya menarik sekali, karena belum terlalu banyak diangkat di Indonesia.

Lalu Ireng. Ah, sepertinya dia karakter favorit saya dalam cerita ini. Ireng adalah sentuhan yang menarik, keberadaannya memberikan warna dalam keseluruhan kisah ini. Saya suka melihat hubungannya dengan Kiri, dan bagaimana pertemuan mereka akhirnya saling mengubah hidup masing-masing. Bersama Kenes, mereka seperti menemukan kembali makna dari ‘keluarga’.

Saya benar-benar salut dengan mbak Ruwi. Cerita ini memiliki misteri yang kompleks dan penuh intrik, tapi juga memiliki bumbu humor dan romantis yang cukup. Saya seperti sudah bisa menduga siapa pelakunya, tapi tetap dibuat kaget ketika benar-benar terungkap. Ada banyak twist yang dijalin dengan rapi di sepanjang cerita, dan meski di belakang membuat saya terheran-heran, tapi juga tidak merasa ‘tertipu’ karena mbak Ruwi sudah menebarkan petunjuk di sepanjang buku.

Keseluruhan

Dua kata: KEREN BANGET!

Sungguh, rasanya tidak ingin kisah Kiri ini berakhir. Inginnya sih, mbak Ruwi bisa membuatkan serial dengan Kiri sebagai tokoh utamanya. Mungkin bisa ditulis tentang kasus segitiga biru yang mempertemukan kembali Kiri dengan Kenes? Atau kasus-kasus yang masih akan dihadapi Kiri setelah pindah ke Surabaya. Saya rasa Kiri Lamari punya potensi untuk menjadi Sherlock Holmes-nya Indonesia. 🙂

A very recommended read! 

“Bukankah sebenarnya setiap manusia memiliki kadar kegilaan dalam dirinya? Entah kecil atau besar.”
I’ll rate it:

4 comments

  1. Web Hosting says:

    Cuma dlm kisah ni. Aku dpt meneka yg bukan Rahardian yg melakukan semua ni. Apa pun, mmg sgt suka karya ni. Aku boleh imagine bagaimana pembunuh bunuh mangsa yg disalut pulak dough dari garam.

Leave a Reply