Afternoon Coffee — sebuah fanfiksi Rust in Pieces

Summary: Jumat sore. Kopi. Buku. Stefan. Hal ini sudah menjadi rutinitas bagi Ardhan. Yang kurang hanya dua orang gadis dalam grup mereka; Tiana dan Sherry.

There’s no plot. Hanya obrolan ringan antara Ardhan dan Stefan pada suatu sore di kafe dekat sekolah.

*Ditulis untuk Giveaway Hari Buku. Sebuah fanfiksi novel Rust in Pieces karya Nel Falisha. Thanks Nel for allowing me to write this and looking over it. 🙂

Standard disclaimers applied.


 

~* Afternoon Coffee *~

Asap putih yang mengepul dari cangkir kopi di depan Ardhan mulai menipis dikalahkan dingin suhu dari AC. Kali ini, latte art yang terpampang pada permukaan cappuccino pesanannya bergambar karakter angry bird.

Jika Ardhan adalah tipe yang senang memotret makanan atau angrybirdminumannya lalu membaginya di media sosial, dia pasti sudah melakukannya. Tapi, tidak. Cukup Stefan saja yang melakukan hal norak seperti itu.

Lonceng pintu kafe berbunyi. Ah, panjang umur. Stefan memasuki area kafe dan langsung berjalan mendekatinya. Sepasang mata Stefan langsung tertuju ke cangkir kopi milik Ardhan.

“Wah. Latte art di sini kreatif, ya,” komentar Stefan sambil mengeluarkan ponselnya untuk memotret. Ardhan hanya memutar bola matanya. Benar kan, dugaannya. “Mirip wajahmu, tuh,” cengir Stefan.

Alis Ardhan naik sebelah. “Berarti gue lucu, kan?” balas Ardhan sambil mengangkat cangkirnya dan menyesap isinya. Wajah marah si burung bulat itu masih memberengut padanya ketika Ardhan meletakkan kembali cangkirnya.

Stefan, yang sekarang sudah duduk di seberangnya, terlihat senang melihat latte art itu masih utuh, meski bentuknya sedikit berubah.

Orang aneh, pikir Ardhan sambil mengembalikan pandangannya ke buku yang sejak tadi dibacanya. Pinjaman dari Stefan, seperti biasa. Dia sudah mulai membacanya sejak tadi malam, tapi memang sepertinya buku ini tipe yang harus dibaca pelan-pelan.

Jumat sore. Kopi. Buku. Stefan.

Hal ini sudah menjadi rutinitas bagi Ardhan. Yang kurang hanya dua orang gadis dalam grup mereka; Tiana dan Sherry.

Sejak kenaikan kelas beberapa bulan lalu, mereka berempat terpisah kelas. Entah ide siapa, tapi hari Jumat adalah hari mereka berkumpul, selain ketika mereka sedang menemani Tiana untuk terapi ke tempat om Alfandi. Sesuatu yang membuat Ardhan tiba-tiba ingin jadi Psikolog. Dan, ternyata keinginannya itu berbuah pada Stefan yang merasa memiliki teman seperjuangan. Cowok kepo itu menepati janji yang dia buat secara sepihak dan rajin menyodorkan buku-buku yang dia rasa akan berguna buat Ardhan; mulai dari buku psikologi populer, buku tentang membaca kepribadian orang, dan terkadang novel yang kental dengan unsur psikologinya.

Ponsel Stefan bergetar di atas meja kafe. Dari balik buku yang dibacanya, Ardhan melihat Stefan yang sedang tersenyum kecil sambil membalas sebuah pesan pada ponselnya. “Tiana?” tanyanya singkat.

Senyum Stefan melebar. “Iya, dia bilang, nggak bisa ngumpul hari ini. Ada teman sekelasnya mau mengajak jalan.”

Alis Ardhan terangkat sebelah. “Nggak apa-apa, tuh?”

“Sherry juga ikut, kok. Pasti nggak apa-apa,” terang Stefan lagi. “Ah, akhirnya Sherry juga mulai bisa lebih banyak berteman sama cewek-cewek lain,” Stefan mendesah senang.

Ardhan mendengus pelan. Matanya menangkap lesung pipi di dekat ujung bibir sebelah kanan cowok itu, yang masih senyum-senyum sambil membalas pesan di ponselnya. Ia mengembalikan perhatiannya ke buku di hadapannya.

Sophie’s World. Edisi berbahasa inggris. “Jadi kenapa lo bawain buku ini buat gue?” tanya Ardhan akhirnya. Dari sebagian yang sudah dibacanya, menurut Ardhan cerita di buku ini cukup random. Lompat dari satu subyek ke lainnya. Menceritakan gadis ABG yang terlalu kreatif dalam melihat dan memaknai dunia dan seorang “guru” yang menurut Ardhan, agak seperti stalker, dari caranya mengirimi Sophie ‘surat’ diam-diam. Meski harus diakui, buku ini memiliki konsep dan bahasan yang menarik.

Stefan tersenyum, lalu mengambil cappuccino milik Ardhan tanpa ijin dan menyeruput isinya, bahkan sebelum Ardhan sempat protes. “Nanti kalau kuliah Psikologi, kita pasti harus mempelajari ilmu filsafat dulu,” jelas Stefan yang dengan santai mengembalikan cangkir milik Ardhan tanpa menghiraukan kerutan di antara kedua alis Ardhan.

Dasar, kebiasaan.

“Sophie’s World adalah cara yang lebih menyenangkan untuk memahami filsafat,” lanjut Stefan lagi. “Kamu masih berniat jadi Psikolog kan?”

Ah, itu lagi. Ardhan menghindari tatapan Stefan yang penuh harap. Ia hanya menggumam pelan sebagai jawabannya. Jujur saja, Ardhan mulai memikirkan ulang keinginannya itu. Bukan, bukan karena dia tidak suka dengan ilmu psikologi. Bahkan, dia cenderung menikmati membaca buku-buku yang disodorkan oleh Stefan. Hanya saja…

“Kenapa lo kepingin jadi Psikolog?” tanya Ardhan akhirnya.

“Aku suka interaksi dengan sesama manusia. Menurutku, misteri terdalam itu letaknya ada di sini,” Stefan menunjuk ke keningnya, lalu tangannya turun ke dada. “Dan di sini.”

Ardhan mengangkat alis. “Dengan kata lain, lo itu kelewat kepo,” simpulnya datar.

Stefan hanya tertawa mendengarnya. “Bisa jadi.”

Ardhan mendengus lagi. Setelah sekian lama bergaul dengan Stefan, dia sedikit-banyak tahu sejauh mana Stefan senang melibatkan diri dalam masalah orang lain. Contoh kasus paling gampang: Tiana. Lalu, Stefan juga menjadi tempat curhat Sherry. Dan sepengetahuan Ardhan, mereka berdua bukan ‘pasien eksklusif’. Masih banyak yang lain.

“Lo kenapa kepo banget, sih?” Ardhan tidak tahan untuk tidak bertanya.

Stefan memiringkan kepalanya. “Because I care,” jawabnya, seolah itu adalah hal paling wajar yang ada di dunia.

Ardhan tercenung, lalu tersenyum simpul. Kemudian, senyuman itu mengembang menjadi tawa ringan.

“Kok ketawa? Aneh, ya?” tanya Stefan yang pipinya sedikit memerah karena merasa ditertawakan.

“Iya. Lo memang orang aneh. Coba aja tanya Tiana dan Sherry. Mereka pasti setuju.”

“Haha,” sahut Stefan garing.

“Tapi,” Ardhan melanjutkan, sementara matanya beralih ke halaman buku yang masih dipegangnya, “Itu nggak jelek juga, sih.”

Hening sejenak. Lalu, tawa Stefan terdengar dari seberang meja. Sekali lagi, Stefan mengambil cangkir Ardhan dan menyesap cappuccino-nya tanpa minta ijin lebih dulu.

“Lo bayarin kopi gue nanti,” ancam Ardhan.

Stefan menjulurkan lidahnya.

~*~*~*~

4 comments

  1. Nel Falisha says:

    Huwaaaaaa, ini adalah Ardhan dan Stefan versi sedikit lebih dewasa (walaupun cuma beberapa bulan dari versi canon di novel). Senang banget lihat mereka bonding. Dan aww, Ardhan, kamu emang mirip sama Angry Bird! Nggak percaya? *sodorin cermin* xD

    Terus, reaksi Stefan waktu ditanya kenapa kepo banget juga WIN! Dari nada-nadanya emang si Ardhan udah nggak terlalu tertarik untuk jadi psikolog nih. Dan kebiasaan Stefan yang main minum aja punya si Ardhan ternyata masih berlanjut sampai sekarang, ya. XDD

    Thanks, babe, and here’s hoping you’ll write more about them. ;p

    http://nelfalisha.com

    • Rettania says:

      Ihiiiy~ thanks babe, glad you like it <3

      I think, dinamika pertemanan Ardhan sama Stefan itu menarik, makanya jadi pengen eksplor persahabatan mereka :p Lagipula, di novel kita lebih banyak melihat interaksi Stefan sama perempuan. Menurutku mungkin menarik melihat Stefan dari sudut pandang cowok, makanya jadilah fanfic ini 😀

      So happy that you, as the original author, like it. I will probably write more about them ;p

  2. Farla Li says:

    Uwaaaah. Unyu sekali dua anak ini. Ada sedikit feel yang berbeda dalam interaksi mereka daripada di buku Nel Falisha. Tapi, saya suka Ardhan dan Stefan yang seperti ini. Seperti memberi sedikit gambaran bagaimana karakter mereka ketika sudah lebih dewasa nanti tapi tetap mempertahankan keisengan dan canda di antara mereka yang menggambarkan ciri khas karakter masing-masing.

    Tulis lagi dong. Bagaimana kalau kali ini tentang Sherry dan Tiana? *wink*

    Cheers,
    Farla Li

    • Rettania says:

      Hehehe, terima kasih~
      Iya, memang sedikit berbeda, karena dalam pikiranku, saat cerita ini berlangsung, mereka sudah berbulan-bulan berteman kan, sudah lebih dekat 😀

      Hahaha, kalau direstui Nel, saya mau juga nulis tentang Sherry dan Tiana~ :p

      Thanks for the comment 🙂

Leave a Reply