Rust in Pieces: “karena aku bukan pencuri…”

Masa remaja adalah masanya pencarian jati diri. Keinginan untuk diterima dan diakui, tak jarang membuat seorang remaja rela melakukan sesuatu yang di luar norma, meski hal itu juga berlawanan dengan kata hatinya.

Hal ini yang menjadi salah satu tema dalam Rust in Pieces; novel yang termasuk dalam Young Adult Realistic Novel (YARN) karya Nel Falisha yang bercerita mengenai Tiana dan perjuangannya melawan monster dalam dirinya yang membuatnya ketagihan mengutil.

11069863_10205482990206801_1196135670889279349_o

Informasi Buku

Judul: Rust in Pieces
Penulis: Nel Falisha
Penerbit: Ice Cube (2015)
Tebal: 224 hal
Genre: Young Adult, Realistic Fiction
ISBN: 9789799108333
Blurb:

“Pantas belakangan ini pernak-pernikku hilang satu-satu. Ternyata dia pelakunya!” Sarah menunjuk-nunjuk ke arah Tiana.

Yunita memicingkan mata dan melipat lengan di depan dada. Pom-pom merah jambu tergeletak di kakinya. “Baru kemarin ikat rambut favoritku hilang.”

“Bukan gitu, aku cuma mau pin—”

“Nonsense!” cetus Sarah.

Yunita menyeringai puas. “Kamu klepto, Ti.”

Usaha Tiana mempertahankan popularitas di SMP sia-sia setelah aksi mengutilnya dipergoki teman-teman di klub pemandu sorak. Tak hanya didepak dari klub, ia juga harus menerima julukan Miss K alias Miss Klepto hingga lulus sekolah. Namun Tiana tidak bisa berhenti mengutil. Ia frustrasi dan memutuskan untuk menghindar dari teman-teman lamanya dengan memilih SMA yang berbeda. Sayangnya, prediksi Tiana meleset. Masih ada Dinda yang di SMP dulu ikut memusuhinya setelah aib Tiana terbongkar. Ada Stefan yang terkenal kepo dan tahu ada yang tak beres dengan Tiana. Ada Sherry yang sering memperhatikan Tiana dari jauh. Ada Ardhan yang cuek tapi berani bicara frontal. Semua orang tampaknya mencurigai tindak-tanduk Tiana. Tiana pun sadar ada yang salah dengan dirinya. Namun Tiana tetap tak mampu mengendalikan jari-jarinya.

Kesan Pertama

Sebagai salah satu first-reader untuk novel ini, kesan pertama saya waktu membaca bab awal adalah, “Wah, bisa juga dia menulis dalam bahasa Indonesia!” hahaha… maklum, Nel terbiasa menulis dalam bahasa Inggris. Saya pun mengikuti tulisan-tulisannya dalam bahasa internasional itu. Membaca karyanya dalam bahasa ibu rasanya seperti angin segar.

Anyway. Dari draft awal yang saya baca, saya sudah merasa bahwa tema yang diangkat Nel sangat menarik untuk genre Young Adult. Kleptomania. Tidak banyak cerita yang mengangkat penyakit ini lebih dari sekedar bahan olok-olok atau disebut sambil lalu. Nel mengambil langkah berani dengan mengangkatnya menjadi tema utama, dan menceritakannya dari sisi penderita yang masih remaja. Saya pikir, pastilah akan menjadi cerita yang menarik.

Saya tidak kecewa.

Plot

Di awal cerita, kita ditunjukkan awal mula “monster” yang menggerogoti hidup Tiana pertama kali terpicu. Tantangan mengutil yang harus dijalani Tiana demi mempertahankan posisinya di geng anak populer di SMP-nya adalah awal dari segalanya. Siapa menyangka, mengutil cokelat di mini market bisa membangkitkan monster dalam diri Tiana–monster yang bernama Kleptomania.

Sejak itu, Tiana berulang kali mengutil hingga akhirnya, ia ketahuan oleh teman-temannya di klub pemandu sorak. Usai sudah hidup Tiana sebagai anak populer di sekolahnya. Yang ada, dia menjadi bulan-bulanan. Karena itu, Tiana memilih untuk masuk ke SMA yang jauh dari SMP-nya dulu. Jauh dari teman-teman yang mengetahui rahasianya tersebut.

Tiana yang dulu gaul, suka menari dan populer, berubah menjadi sosok yang pendiam dan menarik diri dari pergaulan. Di SMA, Tiana memilih untuk selalu menunduk dan sebisa mungkin tidak bicara dengan orang lain. Ia memilih menyendiri, supaya tidak ada orang yang tahu mengenai dirinya.

Tapi, apakah semudah itu? Ada Stefan, teman sekelasnya yang ganteng, ramah, dan disukai banyak cewe–tapi kepo setengah mati terhadap Tiana. Ada Ardhan, cowok yang terkesan bandel dan cuek tapi malah mencoba mengajaknya bicara. Lalu Sherry, cewek tomboi yang disegani siswi lain dan digosipkan sering berkelahi dengan kakak kelas, yang sering mengawasi Tiana diam-diam. Lalu ada Dinda yang pernah satu SMP dengannya dan pasti tahu tentang rahasianya.

Tiana memang gagal menjalani kehidupan yang ‘tenang’ tanpa dihiraukan oleh orang lain. Tapi, di sekolahnya inilah dia menemukan orang-orang yang menjadi sumber kekuatannya untuk berjuang, meski tertatih-tatih, untuk melawan monster dalam dirinya.

Penulisan dan Penokohan

Dalam novel ini, Nel menggunakan bahasa yang mengalir dan mudah dicerna, meski beberapa dari kalimatnya masih terasa agak canggung. Mungkin, karena terbiasa menulis dalam bahasa Inggris. Saya menangkap beberapa ekspresi yang lazim digunakan dalam penulisan berbahasa Inggris, tetapi menjadi sedikit canggung dalam bahasa Indonesia. Tapi selain itu, gaya penulisan Nel sudah sangat baik dan bisa dinikmati.

Yang paling saya suka dari buku ini adalah penokohannya. Terasa sangat realistis dan dekat dengan kehidupan. Relatable, lovable. Tiana yang super introvert tergambar dengan baik di buku ini. Segala kekhawatirannya akan penolakan orangtua dan teman-temannya terasa nyata. Saya senang melihat perkembangan Tiana yang tadinya mencurigai semua orang yang mengajaknya bicara, pelan-pelan mulai bisa membuka diri dan menerima teman-temannya. Ada Stefan, Ardhan dan Sherry yang melengkapi #TeamTiana dalam cerita ini, membuat Rust in Pieces memiliki nuansa remaja yang kental meski membawa tema yang cukup berat.

Saya juga suka dengan perkembangan hubungan Tiana dengan orangtuanya, terutama dengan Mamanya. Penerimaan yang bertahap terasa jauh lebih realistis mengingat karakter Mama yang selalu mengharapkan anaknya menjadi yang terbaik. Bahkan, saya sempat hampir menangis terharu membaca adegan antara Tiana dengan Mama :’)

Dalam Rust in Pieces, kita juga bisa melihat bahwa Nel melakukan risetnya dengan baik. Dia tidak hanya menceritakan perjuangan Tiana dari segi sosial, tapi sampai  sesi terapi dengan Psikolog dan Psikiater pun digambarkan dengan cukup rinci. Ini juga yang saya sukai dari novel ini. Gangguan psikologis seringkali masih dianggap tabu untuk dibicarakan. Akibatnya, banyak penderita yang membutuhkan bantuan profesional, enggan untuk pergi berkonsultasi. Saya senang karena buku ini membawa pesan yang mengatakan bahwa it’s okay to admit that you’re sick. That you need help. It’s okay to SEEK professional help for things that you can’t control.

Keseluruhan

Meski memiliki genre Young Adult, Rust in Pieces bisa dibaca oleh siapa saja, termasuk yang usianya lebih dewasa. Ada banyak hal yang bisa diambil dari kisah Tiana; tentang persahabatan, keluarga, kebersamaan, hingga permasalahn yang banyak dihadapi remaja: peer pressure, dan seberapa besar hal ini dapat mempengaruhi mereka. Nilai-nilai dalam kisah ini disampaikan dengan jujur dan tulus, tanpa terasa menggurui. A very recommended read! 

“Aku bukan orang yang kuat, aku butuh teman yang nggak malu sama aku.” Tiana, hlm 208.

I’ll rate it:

Leave a Reply