Papandayan “Fun Hike” part 1 — Awal Perjalanan

Menyambung posting-ku sebelumnya mengenai rencana hiking ke Papandayan bersama pembaca dan penulis Horor Bukune, kali ini aku akan berbagi cerita dari sudut pandangku mengenai pendakian ini.

Sebagai pendaki super-pemula, medan Papandayan yang katanya sudah cukup ramah pemula ini masih cukup berat bagaiku. Belum lagi kegalauan yang membuatku ragu apakah aku harus ikut atau membatalkan perjalanan.

Tapi, alhamdulillah aku nekat ikut dan berhasil melaluinya.

Ini ceritaku mengenai Papandayan~

????

Barang bawaan, dan tujuan kami di depan~

 

Jumat, 20 Maret 2015

Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Disertai angin dan kilatan petir, menambah kecemasan penduduk Jakarta yang masih berada di kantor ataupun terjebak di jalan.

Atau, yang terpaksa berdiam di lobi apartemen sepertiku.

Hari itu, aku lupa membawa kunci apartemen. Mau tak mau, aku harus menunggu Affa, adikku, pulang dari kantornya di Bekasi. Melihat lebatnya hujan angin di luar, aku ngeri sendiri membayangkan harus berangkat ke Terminal Kampung Rambutan malam nanti untuk naik bus menuju Garut.

“Kalem, cuma air kok. Coba aja pegang, itu cuma air,” kata Arie, salah satu calon peserta pendakian Papandayan ketika aku melaporkan cuaca yang tidak bersahabat itu melalui grup di WhatsApp.

Hujan memang mengundang kecemasan. Hatiku belum tenang. Apalagi, di grup, Dea juga bilang bahwa hujan ini menghalanginya belanja perbekalan untuk naik gunung nanti. Aku jadi berpikir, apa ini pertanda bahwa kami harus batal, ya?

Maklum, ini akan menjadi pendakian pertamaku. Aku sama sekali bukan anak outdoor. Sampai SMA, aku tidak boleh pergi sendirian. Sama teman pun, mereka harus mengantarku pulang sebelum pukul 10:00 malam. Perpisahan kelas 3 SMA (waktu itu masih pakai kelas 1, 2 dan 3) saja aku tidak diberi izin sama Mama, karena bukan acara resmi sekolah tapi hanya inisiatif anak-anak saja.

Iya, aku anak rumahan.

Aku coba minta pendapat temanku yang lain, yang sudah biasa mendaki, tentang cuaca ini. ‘Kalau hujan seperti ini, nanti nggak apa-apa tetap berangkat?’ tanyaku.

‘Kalau hujannya di Jakarta ya nggak apa. Selaw aja, Cyin~’ jawabnya.

Adikku tiba sekitar satu jam setelah hujan mulai turun. Menambah kekhawatiranku, dia terus mencecar: “Yakin kamu jadi berangkat? Hujan gini, jalanan licin. Yang lain gimana? Coba tanya temen-temenmu, pada sreg nggak, mau berangkat?”

Dari percakapan di grup, aku tahu, hujan lebat dan macet di berbagai ruas jalan di Jakarta tak menyurutkan niat seorang pun untuk tetap berangkat.

“Apa gue nggak usah ikut aja ya, daripada ngerepotin yang lain,” curhatku pada Hanum, ketika aku mulai merasa ada saja halanganku untuk berangkat ke pendakian pertama ini.

Tapi pada akhirnya, aku tetap nekat berangkat.

Seharusnya, kami berkumpul di terminal Kampung Rambutan pukul 11:00 malam. Tapi, cuaca dan imbas hujan besar yang turun cukup lama membuat kami susah untuk tiba tepat waktu. Apalagi bagi Aku, Hanum dan Juned, yang harus berangkat dari area Tebet-Manggarai. Genangan air dimana-mana, volume kendaraan yang ikut membanjiri jalanan bersama air pun tak tanggung-tanggung.

“Bisnya sudah berangkat, gaes,” Indra–si Ketua perjalanan yang tak perlu voting ataupun pembuktian untuk berada di posisi pemimpin pendakian–menginformasikan melalui grup WhatsApp. “Semoga ada bis lagi habis ini.”

Hari sudah menginjak tengah malam ketika akhirnya aku, Hanum dan Juned berada di taksi yang akan membawa kami ke terminal. Beruntung, arah ke terminal Kampung Rambutan cukup lancar dari apartemenku. Begitu masuk tol, perjalanan kami tanpa hambatan.

Setibanya di terminal, semua anggota sudah komplit. Ry Azzura, Editor Bukune yang juga pencetus dan penanggung jawab acara pendakian ini, menyambut kami dengan senyum–meski kami nyaris saja ketinggalan bis. Beruntung, masih ada bis lain yang akan segera jalan.

Aku, Hanum dan Juned yang baru datang, menyempatkan diri untuk menyapa semua peserta pendakian. Selain yang sudah kusebutkan sebelumnya, ada juga Irsyad yang juga seorang editor di Bukune, Bedu, serta Novia. Setelahnya, kami bersepuluh segera mengangkut ransel-ransel kami ke bus tujuan Garut yang sudah akan berangkat.

Meski hari sudah larut, kami merasa bersemangat untuk memulai perjalanan ini. Perjalanan perdana Klub Horor Bukune, yang merupakan wadah bagi penulis dan pembaca buku-buku horor Bukune untuk saling mengenal dan berteman.

10389001_10154231395862925_8081840791295762085_n

Hari sudah berganti ketika bis berjalan meninggalkan terminal. Canda-tawa serta suara-suara percakapan perlahan mereda. Di kursi bis yang sempit dan terlalu tegak untuk merasa nyaman, di antara perasaan cemas, penasaran dan bersemangat, kantuk akhirnya menguasai diriku.

Diiringi lagu-lagu mendayu dari speaker bis, aku menyerah kepada tidur.

* * *

 Sabtu, 21 Maret 2015

Langit masih gelap ketika kami tiba di Terminal Guntur, Garut. Setelah menurunkan ransel dan carrier, kami berkumpul membentuk lingkaran. Sepertinya, kami membicarakan sesuatu, tapi nyawaku belum terkumpul. Aku tidak begitu tahu apa yang sedang dibicarakan. Next thing I knew, kami berpose untuk foto bersama.

????

Kami menepi ke teras sebuah toko yang belum buka–meletakkan carrier dan melepas penat setelah tidur dalam posisi duduk tegak selama beberapa jam di bis, semalam. Kami bebersih seadanya–niat untuk mandi sirna terkalahkan dinginnya udara pagi Garut. Aku menyempatkan diri untuk mengabari pacarku dan Mama.

“Di sana hujan, nggak?” tanya Mama via Line.

Aku mengiriminya foto sebagai jawaban.

photo-4-1024x768

Yah, aku mengerti. Mama pasti dilema melepaskanku pergi kali ini. Anak gadis satu-satunya yang selama ini dijaga baik-baik karena agak sering sakit–bahkan sebelum berangkat, aku masih dalam masa penyembuhan karena flu.

Tapi, apa boleh buat. Anaknya ini sudah sedikit terlalu tua untuk dilarang-larang.

Setelah sarapan, kami mencarter angkot untuk membawa kami ke pertigaan Cisurupan, dimana kami akan berganti kendaraan menaiki mobil bak terbuka. Hari sudah mulai terang. Sejak pagi pun, sudah banyak angkot-angkot yang berangkat mengangkut para pendaki. Kami mengobrol sepanjang jalan. Berkali-kali aku melihat keluar jendela angkot, mengagumi pemandangan pedesaan yang sungguh berbeda dengan yang biasa kulihat di Jakarta.

Sampai di pertigaan Cisurupan, kami naik mobil bak terbuka alias pickup. Ini kali pertamanya aku naik di bak mobil pickup. Rasanya memang tidak nyaman–pantatku panas karena sepertinya tempatku duduk ada di atas mesin–tapi ramai-ramai seperti ini, seru sekali!

IMG20150321085046-1024x768

IMG20150321084031-1024x768

????

Lalu, tibalah kami di Camp David yang terletak di kaki gunung Papandayan. Di sini, kami berbenah lagi, mengatur barang bawaan dan membagikan logistik bersama, seperti perbekalan dan air. Tak lupa, kami berdoa agar diberikan kemudahan, keselamatan dan juga kekuatan untuk mendaki.

IMG_1546-1024x576

Lalu, karena kegiatan fun hike ini juga merupakan bentuk promosi dari Klub Horor Bukune, adalah wajib hukumnya bagi kami untuk foto bersama spanduk Klub Horor Bukune sebelum pendakian~

IMG_1552-1024x576

“Jalannya mungkin nggak terasa terlalu menanjak, tapi tetep lumayan. Kalau capek bilang, aja,” Indra mengingatkan sebelum mulai pendakian.

Jalanan berbatu yang membentang di hadapanku tidak terlihat terlalu menakutkan. Sedikit menanjak, memang, tapi–kupikir–masih lumayan landai, lah.

Aku salah.

????

Lihat, aku tertinggal di belakang~

 

Baru berjalan beberapa meter saja, napasku mulai memburu, dan jantungku memukul-mukul dada dengan keras. Aku sempat agak panik, karena belum pernah mengalami yang seperti ini hanya dengan berjalan sedikit saja, tapi aku mencoba tenang.

Beruntung, Novia berhenti tidak jauh di depan untuk berfoto. Lalu, aku tak ingat siapa–mulai membagikan madu untuk kami hisap sebagai sumber tenaga. Yah, terserah lah, yang penting aku punya alasan untuk berhenti sejenak dan mengambil napas. 

????

P_20150321_094342-1024x768

Sejak awal saja aku sudah merasa kepayahan. Aku sempat ngeri membayangkan apa aku akan kuat untuk terus jalan sampai ke camp ground nanti? Tapi, aku berusaha tidak memikirkannya, dan mengalihkan perhatianku ke pemandangan sekitar, mengobrol dengan teman-teman, serta menikmati trek pendakian yang terjal dan berbatu. Yah, anggap saja petualangan.

IMG_1563-1024x576

Mencoba ceria meski kelelahan~

????

????

Tujuan pertama kami masih jauh di depan sana–dimana asap putih membumbung tinggi ke langit.

????

Pada titik ini, aku mulai merasa terbiasa–meski masih kepayahan dan aku menikmati betapa seringnya kami berhenti untuk berfoto. Karena aku butuh istirahat dan mengambil napas, menenangkan jantung yang tiba-tiba dipaksa untuk bekerja lebih keras.

Perjalanan kami masih sangat panjang. Tapi untuk saat ini, kami berkonsentrasi untuk mencapai tujuan pertama kami: Kawah Baru Papandayan.

 –bersambung–

4 comments

  1. Sansadhia says:

    Yipiiiieee, pendakian yang melelahkan tapi selalu bikin hepi. Benar kan Tan?
    Detail banget nih kayanya. Jangan jangan ada percakapan hujan di dalam tenda nih.

    Ditunggu part berikutnya 😀

    • Rettania says:

      Hahahah benaaaar~ (tapi kalau diajak lagi gue mikir dulu yak. Seru sih XD)

      Iyah abis bingung gue mau nulis dari segi apa, yang lain udah dicover. Yaudah ditulis dengan perasaan anak n00b aja :p

      Part berikutnya….ntar yak abis kuliah XD

  2. Arie Je says:

    Part berikutnya horor dong,
    Misalnya:
    “Hutan mati yang Hidup.”
    “Tenda bocor karena nggak pake sayap.” Itu tenda atau~~~ uhm~
    Atau ini nih judul bahasan paling horor:
    “Elly sakit.” Betapa horornya tempat yang bisa bikin eli sakit?

Leave a Reply