Blue Romance, coffee shop dengan beragam kisah

Setiap kisah punya kopinya sendiri. 

Begitulah tagline yang terdapat pada bagian bawah kaver depan buku kumpulan cerita berjudul Blue Romance. Ya, buku ini adalah tentang sebuah kedai kopi 24 jam di kota Jakarta yang menjadi saksi bisu beragam kisah pahit-manis para pelanggannya.

Informasi Buku

Judul: Blue Romance
Penulis: Sheva
Penerbit: PlotPoint (2012)
Tebal: 224 hal
Genre: Romance
ISBN: 9786029481
Blurb:
Selamat datang di Blue Romance, sebuah coffee shop yang buka setiap hari, dan mungkin kau lewati hari ini.

Blue Romance menyediakan kopi ternikmat dan sahabat saat kau dituntut untuk terus terjaga. Blue Romance juga punya banyak cerita. Ada kisah jatuh cinta dan patah hati, perpisahan dan pertemuan kembali. Kisah-kisah ini berbalut kafein dan aroma kopi, berderai tawa dan tangis, di sela desis coffee maker.

Seperti Latte, Affogato, Americano, dan Espresso, setiap kisah punya kopinya sendiri.

Kisah mana yang cocok dengan kopimu? 

 

 

Kesan Pertama

Saya tahu tentang buku kumpulan cerpen Blue Romance ini ketika sedang berselancar di situs beli buku. Dari situ saya tahu bahwa buku ini adalah kumpulan cerita pendek yang memakai satu latar tempat yang sama, yaitu sebuah coffee shop bernama Blue Romance. Saya memang bukan penikmat kopi, tapi saya suka suasana coffee shop. Dan saya suka kumpulan kisah dengan latar yang sama. Apalagi kavernya yang bernuansa vintagejuga menarik mata saya, jadi langsung saya pesan saja buku ini.

Begitu sampai, saya tidak kecewa. Buku ini dikemas dengan bagus, baik secara penulisan dan secara gimmick. Saya suka dengan pembatas buku berbentuk sendok antik itu. Di bagian kepala sendok, ada tulisan:

“Adventure in life is good; consotency in coffee even better.” 
–Justina Chen Headley, North of beautiful–

Tema

Secara umum, tema dari buku omnibook series ini adalah “setiap kisah punya kopinya sendiri”. Setiap cerita selalu diawali dengan ilustrasi satu jenis kopi dan penjelasannya. Misalnya saja, cerita pertama “Rainy Days” diwakili oleh Affogato, yaitu espresso yang dituangkan di atas gelato.
 

 

Untuk kisah-kisahnya sendiri cukup beragam. Ada kisah tentang pertemuan di hari berhujan yang berakhir manis, ada tentang seorang anak yang merindukan ayahnya, mengenai seseorang yang mmutuskan untuk meninggalkan mimpinya, dan lain sebagainya. Tidak semua kisah di blue romance memiliki happy ending, namun persamaan dari setiap kisah adalah penuturan yang manis-pahit. Seperti kopi. 
 

Penulisan, Alur dan Penokohan

Saya menikmati cara Sheva bertutur yang mengalir. Kebanyakan cerita dalam Blue Romance ditulis dari sudut pandang orang pertama atau Aku. Namun ada juga yang ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Agak terasa kurang konsisten, mungkin, tapi tak terlalu jadi masalah buat saya.
Untuk alurnya sendiri, kebanyakan cerpen-cerpen ini memiliki alur linear, namun terkadang penulisan dari sudut pandang Aku membawa pembaca untuk mengetahui masa lalu masing-masing tokoh melalui pikirannya, misalnya ketika dia teringat masa lalunya.
Secara penokohan, untuk setiap ceritanya sudah cukup tergali. Setidaknya, saya bisa merasa bahwa para mereka adalah orang-orang yang ada di sekitar saya. Ada satu tokoh yang menarik perhatian saya dalam cerita “The Coffee and Cream Book Club”. Tokoh Jeff, yang sebetulnya bukan tokoh utama. Lelaki berusia 60an namun berjiwa muda dan suka berkumpul dengan ‘anak muda’ yang tergabung dalam klub buku yang biasa bertemu di Blue Romance. Jeff memberikan konflik bagi Bening, si tokoh utama yang merasa terusik dengan kehadirannya, namun ia juga lah yang menyadarkan Bening tentang apa yang selama ini dia takutkan. Bahwa dia berusaha menutupi kenyataan yang pahit seperti ketika ia menambahkan banyak creamer dan gula ke dalam kopinya. Menurut saya, Jeff menjadi sentuhan yang menarik di buku ini yang kebanyakan tokohnya berusia muda.
Sejauh ini, cerita favorit saya adalah The Coffee and Cream Book Club dan cerita pertama, Rainy Days karena atmosfirnya yang sendu tapi manis. Selain itu, cerita terakhir, A Tale About One Day mengenai pertemuan Kai, seorang pria berusia 30an berdarah Perancis dengan gadis kecil bernama Chantal yang ternyata juga memiliki darah Perancis, membuat saya menebak-nebak dan tersenyum di akhir karena tebakan saya benar, meski Sheva tidak secara gamblang menyatakannya dalam cerita. Namun, petunjuk yang bertebaran di sepanajng cerita cukup jelas, diakhiri dengan ending yang terbuka. Tapi saya tak bisa membayangkan ending lain yang bisa menutup kisah ini dengan baik.

Keseluruhan

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati kisah-kisah yang disajikan dalam Blue Romance. Mereka sederhana, tapi digali cukup dalam dan memiliki dimensi cerita sehingga tidak terasa datar. Blue Romance adalah buku yang bisa dinikmati pelan-pelan di antara kesibukan lain. Atau dalam sekali duduk jika kau sedang senggang.
Seperti kopi yang menemanimu di saat sibuk maupun saat beristirahat.
 
 
I’ll rate it:

Leave a Reply