Soufflé Cokelat dan Macaron Tujuh Warna (book review)

“Kita bisa melupakan kenangan, tapi kita tidak bisa menghapus masa lalu.” –Haruki Murakami

Kutipan itu terpampang di lembar pertama buku Walking After You milik saya, disertai tanda tangan dari si penulis, mbak Windry Ramadhina.

Walking After You merupakan kisah mengenai seseorang yang dihantui oleh masa lalunya, hingga dia nekat membuang impiannya demi mencoba menebus kesalahannya di masa lalu. Kisah pahit-manis bertabur kue dan tar Perancis serta pasta Italia ini, meski cukup tebal, tapi sukses membuat saya enggan meletakkan bukunya hingga saya mencapai halaman terakhir.

Informasi Buku

Judul: Walking After You
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media (2014)
Tebal: 328 hal
Genre: Romance
ISBN: 979780772X
Blurb:
Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya. An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkan kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia.

Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.

Mungkin, kisah An seperti kisahmu. Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

Kesan Pertama

Saya pertama kali ahu tentang buku ini dari twitter Windry yang mempublikasikan gambar kavernya. Tekstur meja kayu. Secangkir kopi. Lalu, Macaron. Warna-warna pastel yang tercetak di buku ini langsung membuat saya jatuh cinta. Saya pikir, pasti ceritanya akan sehangat kavernya.

Tidak, saya tak hanya menilai buku ini dari kaver, tapi saya memang sudah membaca beberapa karya Windry sebelumnya, dan selalu suka. Tulisan Windry selalu meninggalkan perasan hangat di dada. Istilahnya: WAFF (warm and fuzzy feeling). Yah jujur aja, dari judul dan kaver saja sudah cukup bikin saya pengin baca. Apalagi saya sudah tahu kualitas tulisan Windry. Tapi, demi ulasan ini, saya akan komentar soal blurb. Khas buku-buku romansa, blurb buku ini ditulis dengan gaya yang melankolis, tapi tidak dengan bahasa yang terlalu berlebihan. Saya paling suka dengan dua kalimat terakhir: Mungkin, kisah An seperti kisahmu. Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu

Plot

Plot utama dari buku ini adalah kisah perjuangan An untuk mencapai sebuah mimpi. Mimpi yang bukan miliknya, tapi impian Arlet, saudara kembarnya, yang ingin menjadi koki kue handal dan suatu hari nanti punya toko kue sendiri.

Untuk mencapainya, An yang sebenarnya menekuni masakan pasta Italia sejak kecil, meninggalkan pekerjaan lamanya di La Spezia, restoran Italia ternama di ibukota, untuk kursus membuat kue lalu bekerja sebagai asisten koki di toko kue milik sepepunya, Galuh. Toko kue itu bernama Afternoon Tea. Dan di Afternoon Tea ini, An bertemu dengan Julian, salah satu koki kue terbaik di Indonesia yang perfeksionis dan cenderung OCD (obsessive-compulsive disorder). Pada Julian, An melihat bayangan Arlet. Sementara pacar lamanya, Jinendra yang adalah pemilik restoran La Spezia, muncul kembali ke hadapannya, berulang kali, menawarkan cinta yang hanya membangkitkan rasa bersalahnya dari masa lalu. Yang saya sukai adalah konfliknya yang berlapis dan saling mempengaruhi. Ada konflik An dengan masa lalunya, yang membawa dirinya ke Afternoon Tea lalu menimbulkan konflik-konflik lain. Dengan Julian, dengan Jinendra, bahkan dengan Afternoon Tea itu sendiri. Lalu, ada Ayu. Pengunjung setia Afternoon Tea yang tak pernah menyentuh pesanannya dan membuat sang Koki sedih. Wanita pecinta warna merah yang mencerminkan masalah An sendiri–orang yang tidak bisa lepas dari masa lalunya. Kisah ini adalah kisah tentang masa lalu, tentang ikatan sepasang saudari kembar, tentang usaha untuk berdamai dengan kenyataan dan memaafkan diri sendiri. Menerima masa lalu yang tak dapat diubah, lalu maju ke depan.

Penulisan, Alur dan Penokohan

Sebelum Walking After You, saya pernah membaca Memori dan Montase. Saya memang belum membaca semua karya Windry yang sudah terbit, tetapi dari dua buku yang saya baca sebelumnya, saya memang menyukai cara Windry bertutur dan mendeskripsikan cerita, baik dari segi imagery, detail, maupun penggambaran adegan yang bisa membangkitkan emosi, tapi tidak berlebihan. Saya menyebutnya quiet angst. Ditambah lagi, Windry benar-benar detail dalam penggambaran tema masak-memasak, termasuk deskripsi beraneka ragam makanan, bahan-bahannya, hingga pembuatannya, menjadikan tema ini lebih dari sekedar latar saja, tapi benar-benar sebagai elemen penting yang menyatu dalam cerita.

Dialog-dialognya memang terasa seperti membaca buku terjemahan. Tidak hanya dari gaya bahasa yang formal, tapi juga jenis pembicaraan antar-tokohnya. Misalnya, interaksi antara An dengan Julian. Mulai dari gestur, argumen mereka, hingga keseluruhan adegan membuat saya merasa seperti sedang menonton drama Asia atau membaca manga. Bahkan, terkadang otak saya menampilkan gabungan antara sosok manusia dan panel-panel manga ketika membacanya. (Ah, tapi mungkin itu masalah otak saya saja sih :p)

Untuk alur cerita, memang agak maju-mundur karena seringkali beberapa adegan masa lalu ditampilkan di awal bab baru. Tapi alur yang maju-mundur berhasil dituliskan dengan baik dan natural, sehingga flow-nya tetap enak untuk dinikmati. Malahan, saya suka bagaimana Windry pelan-pelan membuka kepada pembaca, sebenarnya apa yang terjadi dengan Arlet, dan bagaimana hubungan An dengan Arlet dulu. Saya juga suka dengan perkembangan hubungan An dengan Julian yang pelan tapi pasti. Pacing-nya pas, tidak terlalu cepat dan terburu-buru. Cocok dengan karakter Julian yang pendiam, jutek, tapi pemalu. Julian yang tidak terbiasa dengan wanita. Omong-omong, saya sangat suka dengan karakter Julian. Bukan karena dia adalah cowk yang ganteng, berbakat, dan cool tapi pemalu, tapi karena menurut saya, karakter Julian tereksekusi dengan baik hingga terasa nyata. Saya bilang begini karena saya sangat mengenal lelaki yang sedikit seperti Julian. Tipe yang memiliki pace-nya sendiri dan tidak bisa diburu-buru dengan perasaannya. Oh iya, saya juga senang bahwa Julian tidak serta-merta bersikap protektif atau luluh meski sudah mengetahui masa lalu An. Saya senang Windry tidak mengikuti pola yang sering saya lihat di cerita romansa ketika tokoh prianya telah jatuh cinta pada tokoh wanitanya. I’m really glad Julian maintains his cool head, so kudos for that!

Untuk karakter An sendiri, saya suka bahwa dia tidak sempurna. Bahwa dia egois dan keras kepala sehingga tidak memikirkan sekitarnya. Manusiawi dan memberikan tamparan bagi saya sebagai pembaca untuk lebih berintrospeksi diri. Arlet juga, meski dia digambarkan sebagai sosok yang tulus, manis dan pemalu, saya senang menemukan bahwa dia sangat bergantung pada An. Bahwa hal itu yang menjadi kekurangannya–tidak bisa menolak keinginan An, karena, hei, dia membutuhkan An dan tidak bisa jauh darinya. Bahwa ketergantungannya itulah yang mungkin membuatnya rela mendahulukan kepentingan An diatas keinginannya. #soktahu Lalu, Ayu. Saya memang belum membaca London, jadi saya tidak mengenal Ayu. Saya hanya menyadari bahwa dia adalah kameo dari London karena saya pernah membaca blurb buku itu. (Mungkin setelah ini saya akan pergi ke toko buku dan membelinya XD). Tapi, bagi saya yang tidak tahu ceritanya pun, Ayu menjadi sentuhan yang unik untuk cerita ini. Pelanggan tetap yang selalu memesan soufflé cokelat tanpa menyentuhnya. Seseorang yang tenggelam dalam masa lalunya sendiri. Kesannya dia adalah tokoh yang tidak punya kepentingan dalam cerita, tapi Ayu adalah sosok vital yang menjadi cermin untuk An. Lalu, adegan ketika akhirnya perasaan An dan Julian bertemu. Itu sukses membuat saya ingin memekik tertahan karena girang dan gemas! (dasar fangirl!) Membayangkannya saja membuat saya senyum lebaaar dan bikin dada saya jadi hangat <3 Ah, post ini sudah mulai terlalu panjang. Intinya, saya suka dengan karakter-karakter yang dimunculkan dalam cerita ini. Termasuk yang tidak sempat saya sebutkan. Terlihat sekali bahwa mereka memiliki latar belakang dan purpose tersendiri. Rasanya, mereka tidak sekedar tokoh rekaan, tapi benar-benar orang-orang yang hidup dan memiliki ceritanya sendiri. 🙂

Keseluruhan

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai buku ini. Yang sedikit mengganjal mungkin hanya bahwa meskipun settingnya dekat (Di kawasan suburban, Bintaro. Hei, saya pernah tinggal di sana!) tetapi dari dialog yang menggunakan bahasa baku, materi dialog itu sendiri, serta jenis interaksi antar-karakternya, saya kurang merasakan bahwa mereka adalah orang Indonesia yang bisa saya temui di mana saja. Meski begitu, karakter-karakternya terasa nyata. Hanya mungkin, tidak tinggal di sekitar saya. (Am I even making any sense? Haha… never mind!)

Membaca buku ini seperti sedang meminum cokelat panas sambil duduk di tepi jendela saat hujan. Kalau cerita ini memiliki warna, saya membayangkannya sebagai warna-warna pastel.

Akhir kata, saya sangat menikmati membaca Walking After You, yang bercerita tentang kue tiramisu, soufflé cokelat, pasta dan… macaron tujuh warna. Seperti pelangi.

 
“Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja.”

I’ll rate it:









P.S. Thanks a lot to mbak Windry yang sudah menandatangani buku saya dan mau foto bersama saat #KPP2014 kemarin. Semoga ada kesempatan bertemu lagi 🙂

Leave a Reply