[BOOK REVIEW] Loved You Love You Then

Katanya, cinta itu memberi kekuatan. Mungkin demikian, ketika cintamu masih memiliki harapan. Tapi ketika harapan itu mati, masihkah cinta menguatkanmu, atau malah membuatmu lemah?

Kira-kira seperti itulah salah satu tema yang saya tangkap dari buku ini. Selain, tentunya, tema CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali 😀

Sebenarnya sudah cukup lama saya melirik buku ini, karena kebetulan saya kenal dengan penulisnya via Facebook, kalau tidak salah sebelum novel utuh debutnya ini terbit (dan sekarang sudah tiga buku, ya? Selamat!). Tapi memang baru belakangan ini saya akhirnya berkesempatan untuk membeli. Dan karena novel ini cukup tipis, saya berhasil menyelesaikannya dalam satu kali duduk.

Saya cukup menikmati novel manis ini. Jadi sekarang saya akan mencoba mereviewnya secara keseluruhan.

 

Informasi Buku

Judul: Loved You Love You Then
Penulis: Daisy Ann
Penerbit: Media Pressindo (2013)
Tebal: 176 hal
Genre: Romance
ISBN: 9799113709 (ISBN13: 9789799113702)
Blurb:
“Kamu tahu aku pernah menyukaimu dulu,” kataku pelan.
“Iya.”
“Apa karena itu kamu menyapaku? Karena tahu aku pernah memiliki perasaan untukmu?” Aku menoleh pelan. “Awan, apa aku… pelarianmu?”
Mata Awan membulat.
“Kamu masih cinta sama Elena, kan?”

***

Perasaan itu harusnya sudah hilang. Windy Firstiana Fera hanyalah seorang fotografer. Ariawan Sadewa sekarang adalah seorang dokter. Keduanya bukan lagi dua pelajar SMA seperti tujuh tahun lalu. Namun, kisah cinta itu masih ada. Tujuh tahun setelah surat cinta itu diterima, keduanya bertemu… and her feelings stayed.

Kesan Pertama

Orang bilang, “don’t judge a book by its cover”. Tapi jujur saja ketika akan membeli buku, mata saya pasti lebih dulu menangkap buku-buku dengan desain kaver yang menarik. Setelah itu judul, lalu blurb. Nah kaver dari buku ini sendiri didesain dengan sangat manis dan catchy, terutama di mata perempuan yang merupakan sasaran pembaca dari novel ini. Kesan yang saya dapat setelah melihat desainnya adalah “rame” dan “remaja banget”, sementara setelah membaca ceritanya, sebetulnya tokoh-tokoh dalam cerita ini sendiri lebih ke dewasa muda, ya.

Dari blurb-nya sendiri cukup menarik rasa penasaran saya yang memang dasarnya hopeless romantic at heart. Apalagi temanya adalah “mencintai seseorang yang tahu kau mencintainya tapi belum/tidak membalasnya”. Banyak sekali yang bisa dieksplor dari situ, bukan? Tema-tema seperti ini biasanya akan disertai dialog-dialog awkward antar karakternya, dan saya selalu suka yang seperti itu. :p

Plot

Cerita ini memiliki konflik yang cukup ringan dan kental nuansa romance-nya. Dalam artian, konflik hanya berputar di segi romansa tanpa ada konflik sampingan yang berarti. Cerita dimulai ketika Fera menerima pesan di Facebook-nya dari pujaan hatinya semasa SMA, Awan. Lelaki yang pernah dikiriminya surat cinta tujuh tahun yang lalu, namun tak pernah mendapat kabar setelahnya.

Dari saling berkirim pesan, mereka akhirnya bertemu ketika Fera pergi ke Malang, kota tempatnya menjalani kehidupan SMA yang juga adalah kota tempat Awan tinggal. Sebagian besar cerita di buku ini mulai bergerak setelah Fera pergi ke Malang dan tinggal sementara di sana, dimana untuk kedua kalinya, Awan membuatnya jatuh cinta. Lagi. Padahal, setahu Fera, lelaki itu sudah memiliki pacar.

Di Surabaya sendiri, tempat Fera sekarang tinggal, ada Reza yang menunggunya. Lelaki yang pernah menyatakan cinta dan masih menunggu jawaban Fera.

Iya, ini cerita mengenai cinta-segi-sekian. Juga tentang perjuangan mendapatkan cinta VS menjadi pelarian orang yang dicintai.

Penulisan, Alur dan Penokohan

Ketika membaca sebuah buku, saya termasuk yang agak pemilih, terutama dari segi gaya penceritaan. Tentu saja hal ini sangat subjektif karena kalau sudah menyangkut gaya, itu cocok-cocokan saja. Kebetulan gaya penulisan Daisy Ann di buku ini bagi saya sudah mengalir dengan baik, dari narasi maupun dialognya, sehingga saya tidak ragu untuk menyelesaikan buku ini dalam sekali duduk.

Gaya bahasa yang digunakan ringan, sesuai dengan setting modern dan tokoh-tokohnya. Penggunaan sudut pandang orang pertama dari tokoh Windy Firstiana Fera juga berhasil mendeskripsikan emosi yang dirasakannya dengan baik. Baik perasaannya maupun pemikirannya juga relatable bagi saya. Saya bisa mengerti dan bersimpati kepada tokoh Fera/Rara/Windy ini 🙂

Untuk alur cerita sendiri linear saja, kalaupun ada penggambaran masa lalu, biasanya terintegrasi dengan narasi ketika tokoh utama sedang memikirkan sesuatu. Tidak ada bagian yang benar-benar flashback ke masa lalu. Which is fine, karena dari segi penceritaan dan konflik sendiri bisa dilihat bahwa novel ini dimaksudkan sebagai bacaan ringan yang manis dan menghibur.

Dari segi penokohannya, yang paling tereksplor adalah tokoh Fera sebagai pemeran utama, serta tokoh Awan. Yang lain masih berkesan numpang lewat saja, karena memang sebagian besar buku ini berpusat pada kedua orang ini. Fera diceritakan sebagai cewek yang tidak terlalu feminin, kuat tapi cengeng, dan cukup berani. Sementara Awan sendiri menurut saya digambarkan terlalu sempurna. Tampan, lembut, kaya, dengan rumah yang elegan dan hei, dia dokter! Calon mantu idaman, hahaha… Kekurangannya menurut saya cuma sikapnya yang terkesan kurang tegas ketika secara tidak langsung ia menyetujui Fera/Windy untuk menjadi ‘pelarian’nya.

Tokoh lainnya memang hanya pemeran pendukung saja, jadi karakter mereka baru terlihat sebatas permukaan. Meski begitu, setidaknya masih ada faktor atau ciri pembeda antara tokoh pendukung satu dengan lainnya, sehingga tidak terlalu terkesan datar atau sama semua. Saya sendiri malah sebetulnya jadi tertarik dengan sosok Brian, sahabat Awan yang juga teman SMA mereka. Brian memegang peran yang lumayan penting di paruh akhir cerita.

Kalaupun ada yang sedikit menggelitik saya, mungkin kesan bahwa penulis terlihat ingin memasukkan interest pribadinya ke dalam cerita ini. Sebetulnya hal itu sah-sah saja, apalagi novel ini adalah karya debut (yang berupa novel utuh, karena kalau saya tidak salah, sebelumnya dia pernah menerbitkan kumpulan cerita horror?), saya bisa mengerti keinginan untuk menunjukkan apa yang menjadi minat penulis ke dalam bukunya. Tidak ada yang salah, hanya saja menurut saya cerita masih bisa berjalan meski tanpa menyebutkan hobi animanga dan cosplay.

Keseluruhan

Secara umum, saya menikmati cerita yang disajikan Daisy Ann dalam novel ini. Ringan, tapi bisa bikin gemas juga. Endingnya menurut saya manis, cuma tiket ke Paris itu berasa sangat too good to be true, deh. Novel ini cocok untuk penggemar kisah romantis yang ringan dan manis.

I’ll rate it:

 

Leave a Reply