Sosok Di Atas Mobil

Melihat judulnya secara sekilas, mungkin yang terbesit di pikiranmu adalah cerita tentang ‘penumpang gelap’ yang tiba-tiba muncul di kursi belakang sebuah mobil, dan terlihat lewat kaca spion.

Bukan, ini bukan cerita seperti itu.
Yah, mungkin agak mirip, sih.

Malam itu, aku dan Manajerku di kantor sedang dalam perjalanan pulang. Bekerja di kantor konsultan Public Relations, lembur hingga larut malam menjadi hal yang wajar. Waktu sudah menujukkan sekitar pukul 10.30 malam ketika mobil yang dikemudikan oleh manajerku melintasi kawasan Pancoran menuju ke arah Pasar Minggu. Manajerku berbaik hati memberikan tumpangan padaku yang berencana menginap di rumah salah seorang teman yang kebetulan searah dengan rumahnya.

Jam segini, jalanan sudah lumayan lengang, meski masih banyak kendaraan berlalu-lalang. Aku duduk di kursi penumpang, memandang ke depan dengan mata setengah tertutup, menahan kantuk. Makanya, ketika aku pertama melihat sosok itu, aku nggak ngeh.

Di depan mobil yang kami tumpangi adalah sebuah mobil pickup berwarna hitam. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari mobil itu. Baknya terlihat kosong karena tidak sedang mengangkut barang.

Tapi, di atas mobil itu, ada benda putih menyerupai sosok yang sedang duduk di atapnya.

Sosok yang seluruhnya terbungkus kain putih usang. Termasuk kepalanya.

Aku mengucek mataku, mengerjap beberapa kali. Sosok itu tidak kaku, namun bergoyang siering dengan pergerakan mobil. Kadang miring sedikit ke kiri, lalu ke kanan…

“Tan…?” panggil manajerku pelan.

Aku menelan ludah. “Iya mbak,” sahutku tanpa perlu menyebut bahwa, iya, kami melihat hal yang sama.

“Itu props bukan ya?” Manajerku memelankan laju mobilnya, antara penasaran dan tidak ingin jarak kami dengan mobil pickup itu mengecil.

“Kalau props, seharusnya ditaruh di bak dong, bukan di atap. Lagian kayaknya nggak diiket tuh, kok nggak jatuh?”

“Iya sih…”

Mobil pickup di depan mempercepat lajunya. Sosok putih itu masih duduk manis di atas atapnya, menghadap ke depan. Tubuhnya sesekali berguncang pelan.

“Mbak, salip aja kali ya?” usulku, antara takut ingin segera menjauh, dan penasaran ingin memastikan apakah sosok putih itu benar-benar…

Pocong?

Manajerku melirikku sekilas. Kami berpandangan selama dua detik, kemudian ia menginjak pedal gas dengan lebih dalam, mengarahkan setir ke kanan untuk menyalip pickup tersebut.

Ujung belakang mobil pickup itu kini berada di depanku. Tanpa dikomando aku mendongak, mataku mengejar sosok putih yang terduduk di atas atap.

Semakin dekat… dan… dari tempatku duduk, aku–untungnya–hanya sempat melihat separuh badan sosok itu, tidak sampai ke kepala.

Mobil kami kini melaju di depan mobil pickup itu. Aku menengok ke belakang, lalu bergidik ngeri.

“Mbak… ilang tuh. Udah nggak ada,” laporku sambil pelan-pelan mengalihkan pandanganku dari arah belakang ke samping kanan. Di belakang kemudi, wajah Manajerku terlihat pucat. Ia tidak berbicara sepatah katapun, hanya menatap lurus ke depan dan berusaha keras untuk tetap berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Aku mengusap lenganku sendiri, merasakan dinginnya AC yang seperti menusuk tulang.

Ketika aku melihat ke depan, nafasku tercekat.

Di situ, dari kaca depan kami, terlihat sosok terbungkus kain putih kusam yang menjuntai dari atas–seperti sepasang kaki yang dibungkus.

Kami tidak berbicara lagi. Dalam hati, aku melantunkan Ayat Kursi.

Mobil terus melaju, kemudian berbelok. Sosok putih itu menghilang dari kaca depan kami.

Aku menghembuskan napas panjang, dan menengok ke arah Manajerku yang memusatkan pandangannya ke depan.

Tanpa diucapkan pun, aku mengerti.

Jangan mengintip ke kaca spion.

Karena kami sama-sama tidak mau tahu jika sosok itu memilih untuk berpindah ke dalam mobil.

* * *
Saya tantang AndherlyanRW http://www.andherlyanrw.com/ untuk membuat foto yang lebih menakutkan dari ini.

 

2 comments

Leave a Reply