[Review – Animation] Wolf Children: Ame and Yuki

Mungkin saya terbilang terlambat baru menonton film animasi ini sekarang. Tapi, saya tetap akan menuliskan cuap-cuap saya mengenai film ini, karena jujur saja, sudah lama saya tidak menonton film animasi yang bikin saya mewek! Hahaha…

Jadi, sebenarnya tentang apa, sih, Wolf Children ini?

Premis:
Hana adalah seorang mahasiswi berusia 19 tahun yang mengalami kisah cinta layaknya sebuah dongeng dengan seorang “wolf man”. Sepanjang 13 tahun kehidupannya yang diceritakan dalam film ini, Hana melahirkan dua orang anak. Sang kakak bernama Yuki, anak perempuan yang lahir ketika salju sedang turun di luar. Adik lelakinya lahir pada musim semi tahun berikutnya, ketika hujan sedang mengguyutr. Dia diberi nama Ame, yang berarti hujan. Awalnya, keluarga kecil ini hidup di tengah kota sambil menyembunyikan keturunan serigalanya. Tetapi, sesuatu yang kemudian terjadi, memaksa mereka untuk pindah ke daerah pedesaan yang dikelilingi oleh alam, jauh dari kehidupan kota.

Trailer:

Review:
Di awal film, cerita berjalan dengan cukup lambat. Saya sempat merasa harus bersabar mengikuti jalannya cerita. Meski begitu, animasi yang indah dan musik latar yang lembut cukup lah untuk memanjakan saya dan membuat saya mau bersabar menyaksikan awal pertemuan Hana dengan Wolf Man dan bagaimana mereka perlahan-lahan mulai dekat.

Cerita baru terasa ‘berjalan’ ketika akhirnya, sang Wolf Man menguak rahasianya. Dari situ, kita bisa melihat dengan jelas keteguhan hati Hana ketika ia sudah menjatuhkan pilihannya. Meski tahu akan sulit, Hana memutuskan tetap bersama Wolf Man.

Mereka kemudian memiliki dua orang anak–yang seperti Ayahnya, berwujud manusia tapi bisa berubah menjadi serigala. Di sinilah cerita mulai menarik. Bagaimana seorang ibu manusia mengurus kedua anaknya yang setengah serigala? Ketika sakit, kemana mereka harus dibawa; ke dokter anak atau dokter hewan? Ketika mereka membuat kegaduhan seperti anak-anak serigala pada umumnya di apartemen yang tidak mengijinkan hewan peliharaan, bagaimana Hana harus menghadapinya? Ketika dinas sosial mendapati bahwa anak-anak Hana tidak memiliki rekam medis maupun vaksinasi dan memaksa mengecek mereka, Hana memutuskan, mungkin mereka tidak bisa lagi tinggal di kota.

“Jika kalian bisa memilih salah satu, apakah kalian ingin hidup sebagai manusia, ataukah sebagai serigala? Aku ingin kalian memiliki pilihan itu.”

Hana memutuskan membawa kedua anaknya ke daerah pedesaan yang dikelilingi hutan dan gunung. Jauh dari peradaban padat, membuat Yuki dan Ame leluasa bermain dan tumbuh sebagai anak-anak manusia setengah serigala. Terkadang mereka berkejaran sebagai bocah-bocah, di lain waktu mereka berlarian dalam wujud serigala.

Dari sini, cerita mulai fokus pada bagaimana Hana membesarkan kedua anak-anak istimewa ini, dan memperlihatkan bagaimana mereka mulai tumbuh dan bersosialisasi dengan manusia dan hewan secara beriringan. Dan bagaimana akhirnya, kedua anak ini menentukan jalan hidup mereka di usia yang masih sangat belia…

Kesan-kesan:
Wolf Children adalah sebuah kisah yang membuat dada saya terasa hangat dan sesak oleh emosi. Bahkan di ketika film telah berakhir, mata saya masih panas oleh airmata. Saya tidak bilang film ini tragis atau sepenuhnya sedih. Sederhana saja: kisahnya sangat menyentuh.

Sekilas, mungkin kisah ini terlihat ditujukan untuk anak-anak. Akan tetapi, banyak sekali pesan yang cukup berat digambarkan dalam cerita ini. Perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anak-anak yang ‘istimewa’, misalnya. Kehilangan orang yang disayangi dan bagaimana menghadapinya. Hingga membuat keputusan besar dalam hidup. Semua itu dikemas dengan apik dalam film animasi berdurasi sekitar 1 jam 57 menit ini.

Tanpa terasa menggurui, film ini mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan sebagai sebuah keluarga, juga perjuangan seorang ibu yang begitu luar biasa dalam membesarkan anaknya untuk membiarkan mereka menentukan sendiri pilihan hidupnya, meski mungkin pilihan itu akan memisahkan mereka.

Akhir Kata:
Simply beautiful! Jenis cerita yang membekas dalam hati meski kita sudah selesai menontonnya, meninggalkan rasa hangat di dada. Definitely recommended!

Leave a Reply