Anak Kucing yang Menyeberang

Malam ini, aku melihat sesuatu yang menyedihkan.

Seekor anak kucing bertubuh kurus yang berjalan agak sempoyongan, sedang berusaha menyebrang jalan, ketika tiba-tiba ada mobil lewat yang dengan “santai”nya lewat begitu saja.

Aku hanya bisa melihat dari pinggir, berharap anak kucing itu sudah melompat menghindar, tetapi kulihat anak kucing itu terlindas ban belakang mobil. Syok, dia melompat dan menggelepar ke pinggir jalan. Aku terdiam untuk sesaat melihatnya, lalu menghampirinya yang terbaring di tanah berlumpur setelah hujan.

Badannya mengejang dan melonjak tak beraturan. Mulutnya terbuka, tersentak seperti akan mengeluarkan nyawanya. Aku tahu, dia sudah tidak mungkin diselamatkan. Meski tidak ada darah yang terlihat (atau mungkin karena gelap?) dia sedang meregang nyawa.

Aku berjongkok, mengabaikan larangan pacarku untuk menyentuhnya karena dia berlumpur, dan kami baru mau makan malam, tetapi aku ingin membelai kepalanya. Aku tahu dia sebentar lagi akan mati, karena itu aku ingin setidaknya membuatnya tidak merasa sendirian.

Jadi, aku belai kepalanya. Dagunya. Panjang hidungnya. Aku mencoba menenangkan dia yang kesakitan, dan sedikit–hanya sedikit–lega saat merasakan anak kucing itu lebih tenang meski masih mengejang kesakitan.

Lima menit aku hanya bisa membelainya, sampai akhirnya aku merasakan tubuhnya mendingin dan jantungnya berhenti berdetak.

Aku tidak menangis.

Pikiranku kosong. Setelah semua selesai, aku mencari toilet terdekat untuk mencuci tangan sampai bersih, lalu keluar dan menemui pacarku yang menunggu di depan.

Aku memutuskan pindah ke tempat lain untuk mencari makan malam. Dia setuju.

Barulah saat dia menepuk punggungku pelan, airmata meluncur di pipiku.

Maaf, kucing kecil. Aku tidak bisa berbuat banyak untukmu. Tapi aku percaya, Tuhan menyayangimu karena dia mengambilmu ketimbang membiarkanmu berjuang sendirian di kehidupan yang keras ini.

Aku percaya, kamu sudah menyeberang ke tempat yang lebih baik.

ilustrasi anak kucing. Sumber: google