(Still Trying To) Love Monday

“I hate Monday!”

Sudah berapa kali kau dengar pernyataan itu, hei Senin? Sakit hatikah kau karena begitu banyak orang mengkambing hitamkan dirimu untuk segala beban dan tantangan yang harus mereka hadapi dengan kehadiranmu?

Memang mungkin banyak yang tidak menyukai kehadiranmu, Senin. Orang-orang yang terjebak pada rutinitas sehari-hari. Entah itu sekolah, kuliah, kerja… Mereka–ah, tidak, kami–seringkali merasa terintimidasi oleh kedatanganmu.

Aku pun demikian, Senin. Sampai saat ini pun, aku masih sering tidak antusias menyambut kedatanganmu. Maaf ya.

Tapi tahukah kamu, Senin? Banyak orang yang memaknaimu sebagai awal yang baru. Karena kau adalah hari pertama dalam satu minggu, banyak hal penting ditandai dengan kehadiranmu. Aku pun memiliki momen-momen dimana aku sangat menantikanmu, Senin. Saat dimana aku dengan harap-harap cemas menunggu untuk menyambutmu, dan menyambut awal baruku.

Hei, Senin, aku belum bisa mengatakan aku mencintaimu. Bahkan terlalu cepat jika aku bilang aku menyukaimu. Tetapi aku janji untuk tidak lagi membencimu, Senin. Dan aku tahu ini tak akan mudah. Aku mungkin masih akan mengeluhkan betapa cepatnya kau datang kembali.

Tapi, ingatkanlah aku, Senin, bahwa kau adalah pertanda dari awal baru, pintu menuju segala posibilitas yang tak berbatas.

Tertanda,
Orang yang masih mencoba untuk mencintaimu.