Tik. Tik. Tik.

Tadi, sepulang kerja, aku berbaring di tempat tidur. Merebahkan tubuh untuk melepas lelah sebelum mandi. 10 menit lagi, pikirku.

Tik. Tik. Tik

Sepuluh menit pertama melayang, memasuki sepuluh menit berikutnya. Aku masih diam memandangi jam dinding, yang jarum detiknya terus berjalan.

“Waktu terus berjalan, lho.”

“Thank you, captain obvious,” balasku padamu, sarkastis, tiap kali kau menegurku karena tidak bisa menghargai waktu.

Bukan, bukan tidak menghargai. Mungkin lebih tepatnya, tidak menyadari.

Tik. Tik. Tik.

Waktu terus berdetik. Aku masih menatap kosong ke arah jam dinding di kamarku. Sepuluh menit lagi sudah berlalu, kemudian lima belas… dua puluh…

Waktu terus berjalan, berlari, sementara aku masih tak bergerak. Pikiranku terjebak pada memori yang sudah berlalu. Tidak bisa kembali. Tidak bisa diulang.

Waktu yang hilang.

Aku selalu berpikir kita punya banyak waktu. Bukankah kita masih muda? Duapuluhan awal. Jika kisah manusia adalah sebuah buku, barangkali usia duapuluhan itu masih ada di bab awal. Belum klimaks.

Tapi, waktu memang tidak menunggu siapapun. Dan saat waktu itu pergi… maka dia hilang selamanya.

Seperti waktumu yang sudah diambil oleh Yang Maha Kuasa.

Lihat aku sekarang. Waktuku terus berjalan, tapi yang kurasakan hanya penyesalan yang kini bertransformasi menjadi kehampaan.

Hei, saat waktu kita masih ada, pernahkah kau menyadari bahwa aku memendam rasa?

Tik. Tik. Tik.

Sekarang, bahkan waktu pun tidak akan bisa menjawab.

Dan ia terus berjalan.

Jakarta, 3 July 2013
22:15
*image disclaimed. got from google*