DPR, Wibawamu Kini

Tulisan opini iseng yang saya tulis buat latihan ternyata masuk halaman depan XD

Isi tulisannya seperti ini:

DPR, Wibawamu Kini

KabarIndonesia – DPR itu seperti Taman Kanak-Kanak. Kira-kira begitulah yang pernah dikatakan oleh almarhum Gus Dur. Melihat keadaan DPR sekarang, mungkin predikat DPR bisa bertambah menjadi “Dewan Pelawak Rakyat”, tentu saja setelah sebelumnya menyandang nama “Dewan Perkebunan Rakyat” dan “Dewan Perikanan Rakyat”.

Pejabat rakyat seharusnya disegani, namun kini acara TV dan artikel koran penuh dengan parodi dan cemooh terhadap para anggota dewan yang (konon kabarnya) terhormat ini. Dari awal tahun ini saja, DPR sudah membuat heboh dengan ‘kelakar’ perikanannya. Menyamakan ‘teman’ dengan berbagai macam ikan, persis seperti anak kecil.

Kelakuan mereka pun tak berbeda dengan bocah ingusan. Berani berbuat tak berani bertanggung jawab. Saling teriak dan saling tuding, itu yang sedang terjadi saat ini. Setelah anggaran fantastis untuk renovasi ruang rapat Banggar diketahui public, baik anggota Dewan maupun anggota Banggar beramai-ramai menuding Sekjen DPR, Nining Indra Saleh, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pemborosan uang rakyat sebesar Rp 20 miliar. 



Jika dilihat, sebenarnya aksi saling tuding ini lucu. Lucu dalam artian sarkastis karena semua orang bisa melihat bagaimana para anggota dewan yang terhormat ini ingin meyelamatkan diri sendiri. Tidak terkecuali—atau mungkin terutama—Ketua DPR Marzuki Alie, yang juga adalah Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR. Dengan lantang Marzuki Alie menyatakan di depan awak media bahwa ia tidak akan segan memecat Sekjen DPR jika ia masih menyalahkan anggota dewan.

Pernyataan Marzuki ini bukannya menyelamatkan muka, namun justru mengundang tawa. Bagaimana tidak, anggaran sebesar itu sebelumnya telah disetujui dalam rapat parpurna. Itu artinya tidak ada alasan bagi Marzuki sebagai ketua BURT sekaligus Ketua DPR untuk tidak mengetahui hal itu. Hanya ada dua kemungkinan, Marzuki Alie pura-pura tidak tahu atau ia lalai sampai tidak mengetahui itu. Yang mana pun, sikapnya tidaklah pantas sebagai seorang ketua.

Dalam berorganisasi, seorang ketua adalah pihak yang paling bertanggung jawab. Sekalipun yang berbuat kesalahan adalah bawahannya, tidak sepantasnya seorang pemimpin melempar tanggung jawab itu. Apalagi dengan vokal menyalahkan anak buah di TV Nasional. Yang ada, wibawanya sebagai seorang pemimpin semakin pupus.

Tidak hanya Marzuki, Ketua Banggar, Melchias Markus Mekeng, pun terang-terangan lepas tangan. Ia berdalih Banggar tidak memiliki kewenangan untuk menentukan spesifikasi dan harga. Namun ini berbeda dengan keterangan yang diberikan oleh Kepala Biro Pemeliharaan Pembangunan dan Instalasi DPR, Sumirat. Menurutnya, memang konsultan yang menentukan beberapaalternative furniture, namun Banggar-lah yang memilih di antara beberapa pilihan yang disodorkan oleh konsultan.

Kebiasaan lari dari tanggung jawab ini sungguh menjatuhkan wibawa para anggota dewan kita. Bagaimana mereka mau bertanggung jawab kepada rakyat jika bertanggung jawab pada diri sendiri saja mereka tidak bisa?

Baleg Iri

Masih belum selesai rakyat terheran-heran dengan besarnya dana yang dikeluarkan untuk renovasi ruang rapat Banggar, DPR sekali lagi mengeluarkan ‘lelucon’ khas mereka. Kali ini giliran Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR, Dimyati Natakusumah, yang maju ke panggung lawakan. Dimyati mengaku iri karena Setjen DPR mendahulukan Banggar untuk memiliki ruang rapat baru.

“Kok ruangan Banggar dibangun duluan, seharusnya ruang rapat untuk Baleg dong. Tugas Baleg itu kan lebih banyak ketimbang Banggar, jadi sepantasnyalah ruang rapat Baleg yang lebih dahulu dibangun.  Ini malah ruang rapat Banggar yang ruangan sebelumnya saja masih layak,” katanya.

Lagi, pernyataan ini menjadi lucu karena terdengar ‘lugu’ alias kekanakan. Wakil rakyat seharusnya sensitif terhadap sentimen publik. Ungkapan kecemburuan Baleg terhadap ruang rapat mewah Banggar hanya akan membuat masyarakat semakin skeptis terhadap DPR. Orang-orang hanya bisa menggelengkan kepala—bahkan mungkin tertawa sinis mendengar perkataan Dimyati.

Dewan Pemborosan Rakyat

Tidak hanya anggaran renovasi Banggar yang saat ini menjadi sorotan publik. Setelah proyek renovasi toilet sebesar Rp 2 miliar terungkap, sedikit demi sedikit anggaran fantastis lainnya terkuak ke permukaan. Berikut adalah rincian sepuluh proyek fantastis DPR:

1. Renovasi 220 toilet dengan nilai anggaran Rp 2 miliar.

2. Pembuatan Kalender 2012 Terdiri dari 13 halaman, anggaran kalender mencapai Rp 1,3 miliar. Dana itu untuk mencetak 17.600 eksemplar dimana setiap anggota Dewan mendapat 20 eksemplar. Namun Kepala Biro Humas DPR, Djaka Dwi Winarko membantah besarnya anggaran itu. Menurutnya dana yang dihabiskan untuk kalender meja dan dinding tidak lebih Rp 400 juta.

3. Pekerjaan kontrak service kompleks rumah jabatan di Kalibata Rp 36,3 miliar.

4. Pemeliharaan halaman Gedung DPR Zona B Rp 1,8 miliar.

5. Pemeliharaan halaman Gedung DPR Zona A Rp 2,13 miliar.

6. Pengadaan pencetakan Majalah Parlementari Rp 2,97 miliar.

7. Pengadaan pencetakan Buletin Parlementaria Rp 3,59 miliar

8. Pemeliharaan dan perawatan medis dan biaya makan hewan rusa di DPR Rp 589 juta.

9. Pengadaan pewangi (pengharum ruangan) DPR Rp 1,59 miliar

10. Renovasi tempat parkir motor yang terletak di sebelah barat Gedung DPR ini akan diperluas dengan estimasi biaya mencapai Rp 3 miliar.

Tak terbayang berapa banyak uang rakyat yang dihamburkan. Di tengah banyaknya masalah yang dihadapi rakyat, sepertinya DPR lebih suka berfokus untuk “mempercantik diri” ketimbang menyejahterakan rakyat. Sikap egosentris seperti ini sepatutnya dimiliki oleh balita yang belum bisa berempati, bukan oleh para wakil rakyat yang mengemban amanat.