Hey, Jynx

Hey, Jynx.

Kadang aku masih melihat bayangmu. Di situ, di depan pintu. Duduk dan memandangku dengan tatapan lucu. Menungguku mengisi tempat makanmu.

Kadang mereka masih terbayang. Wajahmu, saat terakhir mereka tinggalkan. Biar sembuh, dirawat dulu. Siapa sangka itu hari terakhirmu?

Mereka bilang aku beruntung. Aku tak melihat tatapan penuh harap darimu. ‘Jangan tinggalkan aku’, apa kau berpikir begitu? Atau, ‘tinggalah sebentar lagi, waktuku tak banyak,’ pikirmu saat kau meraih kaus adikku dengan kukumu?

Hey, Jynx. Apa kabarmu disana?

Kamu ingat kalung merah yang kubelikan dulu? Kamu hanya sempat memakainya selama satu hari, sebelum dokter menyarankan untuk dilepas saja. Kalung itu masih kusimpan. Tergeletak di meja, menunggu untuk dipakaikan. Di sini ada tiga kucing sekarang. Bambi yang sudah kau kenal dari dulu. Lalu kucing kecil yang kami duga sebagai anakmu—kami namai dia J.J., singkatan dari Jynx Junior. Sekarang sudah jadi ‘remaja tanggung’ 😉

Lalu Dermot, si pendatang baru. Wajahnya mirip denganmu, hanya saja dia hitam, sementara kau abu-abu. Cara tidurnya pun begitu; terlentang memamerkan perut.

Tak satupun dari mereka bisa memakai kalung merah itu.

Hey, Jynx, apa kamu ada di surga?

Aku dengar kalau binatang mati, mereka akan langsung ke surga. Benarkah itu? Atau kamu berada di dunia antara dunia sini dengan dunia sana?

Dimanapun kamu, kami selalu mengingatmu. Kami masih menyayangimu. Aku masih hampir menangis mengingat hari-hari terakhirmu, walau tak sebanyak dulu :’)

Hey, Jynx. Maaf suratnya cuma segini. Aku sepertinya belum bisa berpanjang-panjang mengenangmu, walau empat bulan sudah berlalu. :’)

Hey, Jynx.

We love you, still.

Dari kami—aku—yang merindukanmu di sini.