Dari Langit yang Merindukan Bumi

Bumi sayang,

Bagaimana keadaanmu sekarang? Kulihat kau semakin memprihatinkan. Tanahmu makin mengering. Lautmu sudah terkontaminasi. Isi perutmu digali dan dieksploitasi. Manusia yang menginjakmu makin tak tahu balas budi.

Hey, bumi, berapa lama kau bisa bertahan? Pelindungmu terkikis semakin cepat. Matahari makin leluasa menebarkan sinarnya di atasmu. Dan manusia-manusia yang kau lindungi itu–adakah mereka merasa takut? Ya, tentu ada sebagian dari mereka yang menyadari bahaya yang sedang mereka hadapi. Bahkan merka memimpikanku, Bumi. Mereka ingin terbang dan menggapaiku. Mereka ingin lari kepadaku dan meninggalkanmu.

Tapi aku tidak butuh digapai oleh manusia. Kau tahu aku hanya menginginkanmu, Bumi. Aku ingin ada bersamamu saat kau mengerang kesakitan karena ulah mereka. Aku ingin mendekapmu saat amarah dan pilumu tak lagi tebendung. Apa daya, kita terpisah oleh jarak dan ruang yang sebegitu besarnya.

Bumi, apa kau merindukanku? Kalau kau tanya aku, jawabannya jelas, iya. Iya, aku sangat merindukanmu. Karena itu aku menangis, Bumi. Aku menangis, karena aku tak bisa melakukan apapun untukmu. Aku menangis, karena aku hanya bisa melihatmu mati pelan-pelan.

Aku menangis karena aku sangat ingin berada bersamamu.

Karena hanya dengan hujan–air mataku–aku dapat menyentuhmu.

23 Januari, 2012
Yang Hanya Bisa Memandangmu Dari Atas,
Langit

.

.

.

*Terinspirasi dari salah satu episode Bleach, saat Orihime merenungkan bahwa hujan adalah satu-satunya yang menghubungkan langit dengan bumi.
Surat gaje untuk #30HariMenulisSuratCinta..